Berita Buleleng
Singaraja Literary Festival Tahun 2024 Angkat Lontar Dharma Pemaculan
Dharma Pemaculan berbicara tentang relasi manusia dengan semesta, alam, dan sesama manusia.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Singaraja Literary Festival (SLF) kembali digelar di tahun 2024, dan memasuki tahun kedua.
Kegiatan yang diprakarsai Komunitas Mahima yang digawangi oleh Kadek Sonia Piscayanti, bersama sang suami Made Adnyana Ole ini digelar 23 - 25 Agustus 2024.
SLF tahun ini memacak tema “Dharma Pemaculan: Energi Ibu Bumi”.
Dharma Pemaculan merupakan salah satu lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya.
Lontar ini secara keseluruhan berbicara tentang seluk beluk pertanian.
Baca juga: Mega Festival Indonesia Bertutur Hadir di Bali, Ajak Masyarakat Jelajahi Capaian Artistik Kebudayaan
Namun, sejatinya, Dharma Pemaculan berbicara tentang relasi manusia dengan semesta, alam, dan sesama manusia.
"Kami ingin menghidupkan intelektualisme Kota Singaraja yang berakar dari Gedong Kirtya. Singaraja merupakan kota yang banyak melahirkan atau memproduksi intelektual yang banyak pula menyumbang ide-gagasan yang luar biasa," kata Direktur SLF, Kadek Sonia Piscayanti, Minggu 25 Agustus 2024.
SLF ini menurutnya berupaya mendokumentasikan secara serius potensi sastra dan intelektualitas di Singaraja pada masa lalu, kini, dan nanti.
Khazanah tersebut berusaha dibicarakan, dibahas secara mendalam, didiskusikan, dan juga dialihwahanakan ke dalam media baru, seperti pertunjukan teater, film, dan musikalisasi puisi.
“SLF tidak sekadar menjadi ajang perayaan atau pertunjukan. Perhelatan ini telah menjadi katalisator penyampaian identitas kebudayaan, tempat perayaan memori kolektif, tempat pengembangan talenta dan ekspresi kreatif, tempat lahirnya pegiat budaya, dan tempat berkolaborasi serta berinovasi,” katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng, I Nyoman Wisandika, yang mewakili PJ. Bupati Buleleng, memberi pesan bahwa di tengah arus modernisasi dan kemajuan teknologi, jangan sampai melupakan kebudayaan dan kearifan lokal.
“Sebab banyak sekali nilai positif yang terkandung dalam manuskrip-manuskrip kuno, dalam hal ini lontar yang tersimpan baik di Gedung Kirtya,” ujar Nyoman Wisandika.
Tahun ini, SLF mendatangkan penulis dan sastrawan ternama di Indonesia, seperti Dewi (Dee) Lestari, Aan Mansyur, Willy Fahmy Agiska, dan Henry Manampiring.
Juga para akademisi, sastrawan, seniman, budayawan Bali yang tak lagi dipertanyakan kredibilitasnya.
Di antaranya, Sugi Lanus, Ayu Laksmi, I Ketut Eriadi Ariana, Marlowe Bandem, Andre Syahreza, Made Sujaya, Mas Rucitadewi, I Wayan Juniarta, Oka Rusmini, Saras Dewi, Eka Guna Yasa, Putu Kusuma Wijaya, Made Suarbawa, Olin Monteira, Putu Satria Kusuma, Darma Putra, Pranita Dewi dan masih banyak lagi. (*)
Kumpulan Artikel Buleleng
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Singaraja-Literary-Festival-Tahun-2024-Angkat-Lontar-Dharma-Pemaculan.jpg)