bisnis

Inflasi di Buleleng Capai 0,52 Persen Per Juli 2024

Buleleng saat ini memasuki musim kemarau yang biasanya mempengaruhi harga-harga komoditas. Kendati demikian, inflasi pada bulan Juli tetap terkendali.

istimewa
Cek harga – Tim TPID Buleleng melakukan pengecekan harga di pasar Kabupaten Buleleng, kemarin. Inflasi kumulatif di Kabupaten Buleleng hingga bulan Juli 2024 mencapai 0,52 persen. 

TRIBUN-BALI.COM  - Inflasi kumulatif di Kabupaten Buleleng hingga bulan Juli 2024 mencapai 0,52 persen. Angka tersebut dinilai jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2,07 persen. 

Hal tersebut diungkapkan Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa. Menurut dia, Buleleng saat ini memasuki musim kemarau yang biasanya mempengaruhi harga-harga komoditas. Kendati demikian, inflasi pada bulan Juli tetap terkendali. 

“Inflasi bulan Juli tetap terjaga meskipun memasuki musim kemarau. Beras merupakan komoditas dengan inflasi tertinggi, sedangkan cabai rawit hanya mengalami kenaikan kecil, hanya 0,03 persen,” ungkapnya Selasa (27/8). 

Pria yang juga Sekda Buleleng ini menilai, saat ini yang perlu dilakukan adalah memantau harga beras. Ia mengatakan dua perusahaan daerah telah disiapkan untuk melakukan pembelian beras dari luar daerah, apabila terjadi kekurangan pasokan. 

Sedangkan untuk menjaga kestabilan harga, Suyasa menegaskan pemerintah juga akan menggunakan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk menutupi biaya transportasi.

Baca juga: DBD di Denpasar Tembus 1.178 Kasus! Hampir Menyamai Tahun 2023, Saat Ini Mulai Menurun

Baca juga: Antusiasme Brandon James Wilson, Nyaman Main di Bali United, Ungkap Atmosfer Sepak Bola Indonesia 

Selain itu, biaya bahan-bahan tak terduga akan ditanggung sepenuhnya melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Buleleng agar tidak menambah beban biaya masyarakat.

Lebih lanjut, Suyasa mengatakan perbedaan signifikan antara inflasi tahun ini dan tahun lalu, disebabkan beberapa variabel. 

Mulai dari produksi, tingkat konsumsi, hingga pasokan. “Tahun lalu kelangkaan beras dan minyak goreng memicu inflasi tinggi. Sedangkan saat ini situasi pasokan bahan pokok cenderung stabil,” katanya. 

Suyasa menambahkan, Pemerintah Kabupaten Buleleng akan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat dan luar provinsi untuk memastikan pasokan dan harga tetap terkendali.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan inflasi tetap stabil dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi tanpa gangguan signifikan. (mer)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved