Berita Bali
Sandiaga: Bandara Bali Utara Semoga Bisa Jadi Tambahan Aksesbilitas ke Buleleng
rencana pembangunan infrastruktur yang menghubungkan Bali Selatan dan Bali Utara dengan jalan tol atau bandara baru.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA — Aksesbilitas kurang memadai menuju Bali Utara dinilai menjadi alasan kegiatan pariwisata di daerah tersebut kurang diminati.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno yang sempat berkunjung ke Bali Utara mengatakan pentingnya melakukan peningkatan aksesibilitas untuk memajukan sektor pariwisata di wilayah tersebut.
"Alasan kenapa Bali Utara susah menarik banyak wisatawan karena aksesibilitas. Saya juga diingatkan bahwa segera koneksinya lebih ditingkatkan," jelas Sandi, Sabtu 31 Agustus 2024.
Sementara itu, berdasarkan data Dinas Pariwisata Buleleng, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali Utara hanya sekitar 10 persen dari total kunjungan wisatawan ke Bali.
Baca juga: Grab Hadir di Labuan Bajo, Buka Peluang Pendapatan Lewat Digitalisasi UMKM dan Pelaku Pariwisata
Jarak yang cukup jauh antara Bali Selatan dan Bali Utara, menjadi salah satu kendala utama yang membuat wisatawan enggan berkunjung.
Sandi menyebutkan rencana pembangunan infrastruktur yang menghubungkan Bali Selatan dan Bali Utara dengan jalan tol atau bandara baru.
"Kami tadi mengumumkan bahwa tol yang menghubungkan Singaraja dan Denpasar akan diprioritaskan tahun depan untuk meningkatkan aksesibilitas," imbuhnya.
Dan terkait pembangunan Bandara sendiri karena sudah berulang kali dikaji, akan diputuskan di pemerintahan depan.
“Bandara Bali Utara, yang mudah-mudahan sebagai tambahan aksesibilitas," bebernya.
Pemerintah juga perlu menyiapkan tata kelola pariwisata di Bali Utara.
Sehingga tidak terjadi overtourism seperti kondisi saat ini di Bali Selatan.
Terlebih kata, Sandi Kota Singaraja di Bali Utara dulunya merupakan ibukota Kepulauan Sunda Kecil hingga tahun 1958.
"Karena ini (Kota Singaraja) pernah jadi ibukota Bali sampai tahun 60-an. Tata kelolanya ini harus betul-betul dikaji ulang supaya nanti pembangunannya mengacu pada destinasi," kata Sandi.
"Sehingga tidak ada penumpukan di suatu area atau destinasi, namun tersebar mulai dari area Gerokgak sampai ke Tejakula," tutupnya.
Kumpulan Artikel Bali
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.