bisnis
NYARIS Bangkrut! Kisah Jatuh Bangun Pemilik Denara Bali, Sathya & Kini Bisnisnya Moncer
Ia menceritakan, Denara Bali termasuk usaha yang terimbas pandemi hingga nyaris tutup karena saat itu seluruh sistem pemasarannya masih offline.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Sathya Narayana, anak muda asli Bali harus jatuh bangun membangkitkan usaha lokal yang dirintis orangtuanya yang kini terkenal dengan nama Denara Bali.
Usaha lokal Denara Bali bermula dari rintisan orang tua Sathya Narayana, yaitu Made Diksa Wimona dan drh Ni Wayan Kesumawati Dewi sejak tahun 1997, awalnya dari industri aromaterapi.
“Awalnya industri aromaterapi, sempat bangkrut karena cashflow kurang lancar, pembayaran customer banyak tersendat sampai harus tutup. Tetapi saya tidak ingin menyerah, mencoba bangkit kembali dengan Denara Bali ini,” kata Sathya Narayana dalam Media Workshop di Denpasar, pada Rabu (28/8).
“Tahun 2005-2007 kondisi keluarga susah, makan susah, bisa makan sudah bersyukur, baju bolong bolong terus dipakai. Ada sisa modal Rp 3 juta, itulah yang dipakai peruntungan dengan usaha Denara ini,” tutur pemuda berusia 26 tahun ini.
Tidak mudah membangun usaha, gagal menjadi makanan sehari-hari. Meracik lulur dengan trial and error hingga menemukan formula yang pas tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Baca juga: INFO KUR! Subsidi Bunga di Tahun 2025 Susut Jadi Rp38,28 Triliun, Simak Alasannya
Baca juga: 235 SPBU Tak Lagi Jual Pertalite! Penjualan Dihentikan Bertahap, Pertamina Tegaskan 7.516 SPBU
Peluang bisnis di industri kosmetik dan perawatan tubuh terutama di produk SPA Bali ini diliriknya pada 2007. Ia menganggap SPA yang ikonik di Bali ini bisa menjadi bisnis yang menjanjikan.
Bermodal keinginan untuk meraih pangsa pasar produk perawatan tubuh, sang ibu Ni Wayan Kesumawati pun mengikuti kursus pelatihan membuat formula perawatan tubuh.
Ilmu yang diperolehnya kemudian diterapkan untuk menciptakan berbagai produk perawatan tubuh, seperti body scrub dan sabun alami, yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Setelah melakukan riset selama satu tahun, akhirnya Made Diksa dan istri mendirikan Denara Bali pada Agustus 2008.
“Kebetulan melihat peluang bisnis, Bali ini kan daya tarik produk SPA, wisatawan ramai ke sini juga di tengah waktu libur jugaa ingin merasakan SPA Bali. Saya berkeinginan Denara menjadi sensasi SPA ala Bali yang bisa dinikmati di manapun berada,” bebernya.
Namun pandemi COVID-19 membuat hampir semua sektor industri lesu, tak terkecuali sektor industri perawatan tubuh.
Ia menceritakan, Denara Bali termasuk usaha yang terimbas pandemi hingga nyaris tutup karena saat itu seluruh sistem pemasarannya masih offline.
Melihat dampak dari pandemi, Sathya turun tangan membantu bisnis tersebut. Kemudian tantangan yang dihadapinya ialah mempelajari tentang standar mutu, quality control dan persaingan dunia usaha personal care lainnya.
“Bukan hal negatif, pertumbuhan UMKM begitu hebat, pesat dan bergairah, ini yang memacu saya untuk membentuk positioning dan branding," ujar dia.
Sathya pada akhirnya mampu membangkitkan lagi usaha Denara Bali dengan inovasi dari segi strategi penjualan dengan merambah digitalisasi.
Hadirkan Band Juicy Luicy, PLN Dukung Penyelenggaraan Bali EV Festival 2025 |
![]() |
---|
SIAPKAN Proyek Baru PLTS 9-10 MW di Badung, Kapasitas PLTS di Bali Saat Ini Capai 50 MW |
![]() |
---|
TAX Ratio Diprediksi Hanya 15,01 Persen dari PDB, Target Tax Ratio Masih Jauh dari Harapan |
![]() |
---|
POTENSI Transaksi Produk Makanan Olahan Rp221 Miliar di India |
![]() |
---|
Penggerak Ekosistem Digital, 1 Dekade Batic 2025, Jawab Tantangan Transformasi Digital dan AI |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.