KTT IAF & HLF MSP
Menlu Retno: Kerja Sama Ekonomi Indonesia dan Negara-Negara Afrika Terus Meningkat
Menlu Retno menyampaikan sebagaimana IAF yang pertama, IAF yang ke-2 tujuan utamanya adalah memperkokoh kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Hari ini Presiden RI Joko Widodo telah memimpin Pertemuan Joint Leaders' Session High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (atau kita sebut HLF-MSP) dan Indonesia Afrika Forum yang ke-2 (IAF 2).
Di mana setelah sesi Leaders selesai, pertemuan HLF-MSP dan IAF dilanjutkan dan masih akan berlangsung sampai esok hari.
Kegiatan tidak saja dalam bentuk pertemuan pleno seperti tadi pagi, namun juga dalam bentuk Leaders' talk, business matching, diskusi panel, dan juga side events.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, pada konferensi pers di Media Center HLF-MSP dan IAF 2024 di BNDCC, The Nusa Dua, Badung, Bali.
Baca juga: Pertemuan Bilateral Disela IAF di Bali, Jokowi dan Presiden Zanzibar Bahas Kerja Sama Ekonomi
Menlu Retno menambahkan total delegasi yang hadir untuk kedua event tersebut, lebih dari 1.400 orang dari 29 negara.
Dan di sela-sela kedua pertemuan tersebut, kita juga akan melakukan pertemuan Konsul Kehormatan Indonesia di Afrika.
“Konsul Kehormatan ini adalah jembatan Indonesia dalam memperkokoh hubungan bilateral dengan negara-negara Afrika. Indonesia Africa Forum ini adalah forum yang kedua. IAF yang pertama kita selenggarakan pada tahun 2018, dan tahun ini tema yang kita usung adalah Bandung Spirit for Africa Agenda 2063,” jelasnya.
Menlu Retno menyampaikan sebagaimana IAF yang pertama, IAF yang ke-2 tujuan utamanya adalah memperkokoh kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.
Hubungan politik dan historis antara Indonesia dan Afrika telah terbangun kokoh sejak 1955, dan fondasi yang kokoh tersebut penting digunakan untuk membangun kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.
Melalui IAF Indonesia menyerukan soliditas Global South untuk menjadi penggerak perubahan.
“Kita tahu, kondisi global saat ini semakin mengkhawatirkan. Ini mengakibatkan perekonomian global menjadi tidak menentu. Dan negara berkembang, negara-negara dari Global South, adalah yang paling terkena dampaknya. Oleh karena itu, negara-negara Global South harus memiliki semangat yang sama untuk menjadi bagian penting dari perubahan dan menjadi bagian dari solusi melalui kemitraan dan kerja sama yang lebih solid,” paparnya.
Kita bersyukur, selama pertemuan yang dipimpin oleh Presiden tadi pagi dan kemudian dilanjutkan oleh Pak Menteri Bappenas, keinginan memperkuat kerja sama selatan-selatan sangat jelas.
Dan Spirit Bandung dijadikan kompas yang digunakan untuk menavigasi kerja sama selatan-selatan.
Presiden RI di dalam pembukaan sesi Leaders juga menyampaikan untuk menjadi bagian dari solusi masalah global, Indonesia berkomitmen untuk terus memerankan bridge builder, sebagai jembatan antara perbedaan-perbedaan.
Dan juga menjadi jembatan dalam membela kepentingan Global South, serta terus memperjuangkan kesetaraan, keadilan bagi negara-negara berkembang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Menlu-Retno-Kerja-Sama-Ekonomi-Indonesia.jpg)