bisnis
IHSG Melemah 0,60 Persen Sepekan! Simak Alasannya
Data manufaktur di Euro Area diperkirakan masih dalam zona kontraksi, dengan estimasi sebesar 44,8 pada September 2024.
TRIBUN-BALI.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,61 persen atau 47,59 poin dan ditutup di level 7.696 pada perdagangan Jumat (27/9).
Penurunan ini menyebabkan IHSG mengakumulasi pelemahan 0,60?lam sepekan.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, bahwa di awal pekan depan, pasar akan menanti sejumlah rilis data sektor manufaktur untuk September 2024 di Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS).
Data manufaktur di Euro Area diperkirakan masih dalam zona kontraksi, dengan estimasi sebesar 44,8 pada September 2024.
Baca juga: KEBAKARAN di Jembrana & Karangasem Bali, Kerugian Ditaksir Rp 100 Juta, Kamar Tidur & Dapur Ludes
Baca juga: Tahapan PPPK Kota Denpasar Diumumkan Esok, Sudah Ajukan 4.602 Formasi
“Secara teknikal, IHSG telah menembus batas bawah moving average (MA) 20 dan menunjukkan pelebaran negatif pada indikator MACD. Dengan demikian, kami memperkirakan IHSG akan menguji support di rentang 7.600 hingga 7.640 pada Senin (30/9),” kata Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang, Jumat (27/9).
Alrich merekomendasikan saham-saham menarik untuk diperhatikan pada Senin (30/9), termasuk JSMR, ABMM, ERAA, TKIM, MAPA, dan MIDI. Direktur PT Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus, menjelaskan bahwa IHSG cenderung tertekan minggu ini akibat adanya net sell asing pada saham-saham big banks.
“Kondisi pasar global menunjukkan penguatan, terutama indeks Nikkei dan Hang Seng yang menguat signifikan selama seminggu ini. Saya memperkirakan IHSG masih akan menguat terbatas pada hari Senin depan,” tuturnya.
Daniel merekomendasikan saham-saham yang menarik untuk diperhatikan pada Senin (30/9), yaitu HRUM (target Rp 1.600), BBTN (target Rp 1.550), INDY (target Rp 1.850), dan INCO (target Rp 4.250).
Data manufaktur AS juga diperkirakan masih berada dalam zona kontraksi, meskipun dengan sedikit perbaikan, diperkirakan mencapai 48,3 pada September 2024. Selain rilis data manufaktur, pasar juga menunggu pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell, pada Selasa (1/10).
Serupa dengan Eropa dan AS, Tiongkok juga akan merilis data manufaktur dari NBS dan Caixin, yang masing-masing memperkirakan kondisi manufaktur Tiongkok stagnan.
NBS memperkirakan kondisi manufaktur pada September 2024 masih dalam zona kontraksi di level 49, sedangkan Caixin memprediksi zona ekspansi dengan ekspektasi perlambatan di level 50,1 (sebelumnya: 50,4).
Kondisi manufaktur Indonesia saat ini juga diperkirakan dalam zona kontraksi, dengan sedikit peningkatan menjadi 49,5 pada September 2024 (sebelumnya: 48,9).
Selain rilis data S&P Global Manufacturing, pada hari yang sama, Selasa (1/10), juga akan dirilis data inflasi Indonesia yang diperkirakan meningkat menjadi 2,3% YoY (sebelumnya: 2,12%) atau +0,2% MoM (sebelumnya: -0,03% MoM).
Sementara itu, inflasi inti diperkirakan meningkat menjadi 2,6% YoY pada September 2024, dari sebelumnya sebesar 2,02% YoY. Peningkatan inflasi bulanan diharapkan dapat mengakhiri deflasi Indonesia yang berlangsung selama empat bulan berturut-turut. (kontan)
| DARI Pedagang Pasar ke Agen BRILink, Ketut Suandini Tekuni Layanan Keuangan untuk Warga |
|
|---|
| EKPANSI Regional di Asia Tenggara, KKV Resmi Masuk Indonesia, Hadirkan Pengalaman Ritel Gaya Hidup |
|
|---|
| WASPADA! Rupiah di Level Terlemah, Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp17.300 Per Dolar AS |
|
|---|
| BONGKAR Modus Beras Premium Abal-abal Harga Mahal, Total Kerugian Capai Rp 10 Triliun |
|
|---|
| WADUH, Biaya Produksi Otomotif Naik, Terdampak Nilai Tukar Rupiah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ihsg_20160114_171423.jpg)