Seni Budaya
KISAH 15 Tapel Pasupati, Puri Kauhan Ubud: Peran Kepemimpinan Lewat Seni Wayang Wong di Pura Desa
Cokorda Alit Artawan, dan Ketut Kodi dari Singapadu berbagi kisah saat pembuatan tapel pasupati milik Puri Kauhan Ubud ini.
Kemudian Yayasan Puri kauhan Ubud melihat tantri itu, sangat relevan dengan konteks saat ini. Maka berbekal itu, pihaknya menginisiasi wayang wong Tantri.
Wayang kulit Tantri sendiri sejatinya sudah ada sejak dahulu. Perbedaan wayang wong dan wayang kulit, adalah jika wayang wong maka yang menarikan adalah manusia.
Namun uniknya, jarang lakon Tantri diangkat ke dalam wayang wong selama ini, sehingga hal ini menjadi hal yang cukup baru.

Wayang wong Tantri dengan lakon tema Nandaka Harana, adalah salah satu kisah dalam Tantri yang menceritakan hubungan persahabatan antara lembu dengan singa.
Jika dilihat dalam konsepsi Tri Guna, singa sebagai raja hutan, memiliki sifat Rajas yang energik. Kemudian lembu memiliki sifat Satwam dan sifat Tamas dipegang oleh tokoh anjing.
"Dalam cerita ini sangat raja hutan memerintahkan Sembada (anjing) untuk mencari mangsa jenis Karnivora. Ketemu lah sama lembu, dan lembu punya watak Satwam tidak memakan daging tapi tumbuhan-tumbuhan kemudian memberikan tutur," jelas Ari Dwipayana.
Tutur dari lembu kepada Sembada (anjing), tentang bagaimana hidup sebagai seorang syahdu. Itu akhirnya membuat mereka tertarik dan berguru kepada Nandaka (lembu) tentang kehidupan satwam dan sattwika.
Sampai kisahnya, perilaku singa dan anjing berubah menjadi seperti lembu, apapun perilaku Nandaka termasuk makan rumput.
Dari sana Sembada kemudian punya pemikiran, karena tubuhnya malah makin kurus dan akhirnya ia mengatur siasat.
Siasat adu domba, dengan mengatakan bahwa lembu punya ambisi untuk menguasai hutan. Hal ini dikatakan kepada singa, dengan mengatakan bahwa lembu suatu saat ingin mengganti diri raja hutan.
Dari sana adu domba berhasil, hingga akhirnya terjadi perkelahian antara Nandaka (lembu) dengan Canda Pinggala (singa), sampai akhirnya keduanya mati.
"Nah moral cerita ini, adalah seorang pemimpin jangan sangat mudah diadu domba. Akibatnya akan hancur, itu konteks politik saat ini juga relevan karena rawan fitnah & hoax," sebutnya.

15 tapel atau topeng ini dikerjakan oleh dua seniman Singapadu, yaitu Cokorda Alit Artawan dan Ketut kodi. Keduanya juga merupakan Dosen ISI Denpasar Bali.
Tapel
Topeng
Wayang Wong
pura desa
Ubud
Puri Kauhan Ubud
Pasupati
tri guna
Ari Dwipayana
Tantri
Nandaka Harana
lembu
Singa
TARI Sakral Sanghyang Dedari Hanya Boleh Gadis Belum Mens yang Menari, Wujud Hadirnya Berkah Dewa |
![]() |
---|
JAGA Warisan Atraksi Agar Tetap Lestari, Peserta Makepung Bupati Cup 2025 Nambah, Ribuan Penonton! |
![]() |
---|
SAKRAL Tari Sanghyang Dedari dari Banjar Behu Nusa Penida, Kini Diperjuangkan Jadi Warisan Dunia! |
![]() |
---|
Karya Mamungkah Ngenteg Linggih Lan Mapadudusan Agung Merajan Tengah Griya Cucukan Klungkung Bali |
![]() |
---|
SLF 2025 Kembali Hadir, Angkat ‘Buda Kecapi’ sebagai Napas Sastra Kontemporer |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.