Seni Budaya
KISAH 15 Tapel Pasupati, Puri Kauhan Ubud: Peran Kepemimpinan Lewat Seni Wayang Wong di Pura Desa
Cokorda Alit Artawan, dan Ketut Kodi dari Singapadu berbagi kisah saat pembuatan tapel pasupati milik Puri Kauhan Ubud ini.
Background Cokorda Alit Artawan dan Ketut Kodi, adalah generasi penerus dari Cokorda Api sang maestro seniman pembuat topeng dan tapel dari Singapadu.
15 tapel ini, terdiri dari Nandaka, Canda Pinggala, Sembada, ada Hanoman, Paksi, Bawi, dan lain sebagainya. Ada pula tokoh Mredah, Malen, sebagai peneges yang menjelaskan makna dari dialog-dialog pementasan wayang wong.
Ari Dwipayana menjelaskan, bahwa prosesi pembuatan tapel pasupati ini tidak sembarangan. Dari nunas (meminta) kayu (taru) ke Alas Gumang di Manukaya, Tampaksiring.
Kemudian setelah itu, taru dibawa ke Puri singapadu dan ada prosesi ngendag taru yang dipimpin sulinggih. Kemudian setelah ngendag, membentuk tapel dan setelah itu mewarnai, baru ada proses membuat gelungan dan Sekar Taji. Lanjut ngeratep dan menyambung tapel gelungan.
Kayu yang digunakan adalah kayu pule, lalu setelah ngeratep baru ada proses mendak. "Tapel yang sudah selesai di merajan saren kauh di Singapadu, setelah itu baru proses pasupati," sebutnya. Lalu proses napak siti atau napak pertiwi.
Kemudian masolah di tengah Pura Desa, Desa Pakraman Ubud. Lalu mapinton nunas taksu di Pura Catur Paiguman, Desa Adat Panembahan, Tampaksiring tempat asal tarunya diambil.
Lalu ke Pura Batan Nyuh, karena kaitan historis bhatara di merajan Puri Kauhan Ubud, dan di Pura Puncak Padang Dawa di Baturiti yang dikenal punya pralingga wayang wong.
"Nah setelah itu akan dipentaskan pada 14 Desember 2024 di pamedal Pura Taman Ayun," sebutnya. Sebagai bagian dari proses penyucian, hingga menjadi pelawatan dan pralingga di merajan.

Pengalaman Saat Membuat Tapel
Cokorda Alit Artawan, dan Ketut Kodi dari Singapadu berbagi kisah saat pembuatan tapel pasupati milik Puri Kauhan Ubud ini.
Ketut Kodi menjelaskan, bahwa pihaknya memang sudah sering membuat topeng atau tapel, genre Calon Arang dan Babad Majapahit.
Dalam membuat tapel Tantri wayang wong ini, ia membayangkan berlandaskan cerita sastranya. Bagaimana karakter topeng atau tapel itu, sehingga memiliki jiwa.
"Makanya dalam pembuatan topeng zaman dulu, ada unsur sastra imajinasi, membaca, mendengar dan untungnya sekarang sudah sering melihat binatang secara real," sebutnya. Sehingga kesulitan bisa diatasi.
Walau dalam waktu singkat, dari menebang pohon kemudian dari kayu masih mentah, dijadikan topeng kayu. Kemudian ada proses perendaman tujuannya agar sari makanan hilang, sehingga tidak dimakan rayap.
"Biasanya proses perendaman sampai 2 bulan sampai bau busuk," sebutnya. Namun beruntung karena Bali dalam cuaca panas, sehingga proses pengeringan juga cepat. Sesudah kering, dihaluskan dan saat mengamplas ada perbaikan karena mungkin saja ada bagian yang lepas dari perhatian.
Tapel
Topeng
Wayang Wong
pura desa
Ubud
Puri Kauhan Ubud
Pasupati
tri guna
Ari Dwipayana
Tantri
Nandaka Harana
lembu
Singa
TARI Sakral Sanghyang Dedari Hanya Boleh Gadis Belum Mens yang Menari, Wujud Hadirnya Berkah Dewa |
![]() |
---|
JAGA Warisan Atraksi Agar Tetap Lestari, Peserta Makepung Bupati Cup 2025 Nambah, Ribuan Penonton! |
![]() |
---|
SAKRAL Tari Sanghyang Dedari dari Banjar Behu Nusa Penida, Kini Diperjuangkan Jadi Warisan Dunia! |
![]() |
---|
Karya Mamungkah Ngenteg Linggih Lan Mapadudusan Agung Merajan Tengah Griya Cucukan Klungkung Bali |
![]() |
---|
SLF 2025 Kembali Hadir, Angkat ‘Buda Kecapi’ sebagai Napas Sastra Kontemporer |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.