Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Pohon Tumbang di Monkey Forest

PASCA Tragedi Maut di Monkey Forest, Desa Adat Segera Gelar Upacara Mecaru Ageng, Kini Closed Dulu!

Bendesa Adat Padangtegal, I Made Parmita mengatakan, Desa Adat Padangtegal akan menggelar upacara pembersihan secara niskala.

Tayang:
IST
Bendesa Adat Padangtegal, I Made Parmita mengatakan, Desa Adat Padangtegal akan menggelar upacara pembersihan secara niskala. Dijelaskan, selama ini pihaknya di desa adat telah rutin menggelar upacara atau ritual untuk penghuni Monkey Forest Ubud, baik dari satwa berupa monyet maupun tumbuhan yang membentuk hutan Monkey Forest.  

TRIBUN-BALI.COM  - Objek Wisata Monkey Forest Ubud merupakan destinasi pariwisata yang dikelola Desa Adat Padangtegal, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Meski dikelola secara mandiri, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gianyar tetap memberikan perhatian terkait bencana pohon tumbang di Monkey Forest Ubud pada Selasa (10/12). 

Sebanyak 3 wisman atau Warga Negara Asing (WNA) yang menjadi korban pohon tumbang tersebut. Ketiga 3 WNA tersebut adalah WNA perempuan asal Prancis berinisial FJC (32) meninggal dunia,  WNA perempuan asal Korea Selatan berinisial KH (42) meninggal dunia, dan WNA perempuan asal Korea Selatan berinisial LS (43) luka berat.

Sekda Gianyar, Dewa Alit Mudiarta mendatangi Objek Wisata Monkey Forest Ubud pada Rabu (11/12) pagi. Dia datang bersama pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), mulai dari Kepala Dinas Pariwisata Gianyar, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gianyar dan sebagainya.

Alit Mudiarta menegaskan pihaknya ikut bertanggung jawab terhadap musibah ini dan memastikan kewajiban yang harus diterima para korban terpenuhi. 

Pihaknya meminta kepada pengelola Monkey Forest Ubud dan objek wisata lainnya di Kabupaten Gianyar yang menjadikan alam sebagai bagian dari objeknya, supaya melakukan pemangkasan pohon besar saat cuaca ekstrem, supaya tidak terjadi kejadian serupa lagi. 

Baca juga: TRAGEDI Maut Monkey Forest Jadi Atensi Dispar Bali, Tjok Pemayun Minta Ini ke Pengelola Wisata Alam 

Baca juga: Objek Wisata Monkey Forest Ubud Ditutup Sampai Natal & Tahun Baru? Ini Jawaban GM dan Kadispar Bali

Proses evakuasi pohon tumbang di Monkey Forest, Ubud, Bali pada Selasa, 10 Desember 2024, akibat angin kencang dan hujan deras, menewaskan dua wisatawan asing dan melukai satu lainnya.
Proses evakuasi pohon tumbang di Monkey Forest, Ubud, Bali pada Selasa, 10 Desember 2024, akibat angin kencang dan hujan deras, menewaskan dua wisatawan asing dan melukai satu lainnya. (ist)

“Kami bersama Dinas Pariwisata sudah ambil langkah dalam cuaca ekstrem ini agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Ada pemangkasan pohon yang rawan. Kami antisipasi dengan BPBD,” kata dia.

“Untuk DTW Monkey Forest sebenarnya diswakelola desa adat. Dilihat dari pengelolaan, sudah berjalan dengan baik. Namun ini bencana yang tidak bisa kita hindari. Yang terjadi kemarin, kami sudah koordinasi dengan keluarga korban. Pada prinsipnya, kami dari Pemerintah Kabupaten Gianyar mengucapkan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada korban. Penanganan korban, kami bertanggung jawab,” ujar Dewa Alit. 

Bendesa Adat Padangtegal, I Made Parmita mengatakan, Desa Adat Padangtegal akan menggelar upacara pembersihan secara niskala. Dijelaskan, selama ini pihaknya di desa adat telah rutin menggelar upacara atau ritual untuk penghuni Monkey Forest Ubud, baik dari satwa berupa monyet maupun tumbuhan yang membentuk hutan Monkey Forest

Upacara tersebut dilakukan saat Hari Tumpek Kandang yang dikhususkan untuk binatang. Hal itu bertujuan agar hewan di Monkey Forest terlindungi secara sekala maupun niskala. Sementara upacara untuk tumbuh-tumbuhan dilakukan saat Hari Tumpek Uduh.

“Khusus kejadian ini, akan ada tambahan upacara. Pasti ada tambahan. Ada penglukatan bagi semua staf. Diawali dengan mecaru, pembersihan. Kemarin juga kami sudah ngemargiang prayascita di lokasi kejadian. Dilanjutkan besok (Kamis 12 Desember) pecaruan kecil di tempat kejadian. Nanti tanggal 14 Desember kami pusatkan di Pura Wana untuk pecaruan juga. Upacara dipimpin Sulinggih. Upacara memang cukup besar,” ujarnya.

“Mudah-mudahan, ini bentuk permohonan maaf kami. Secara niskala mungkin ada hal yang menyebabkan situasi ini terjadi, kelalaian, kesalahan kita yang tidak sengaja atau sengaja. Melalui upacara ini, kita memohon agar tidak lagi terjadi. Ini berkaitan dengan bencana, di mana pun bisa terjadi, tetapi bagaimana kita minta perlindungan dari sesuhunan di objek ini, di Pura Dalem juga. Karena objek ini ada Pura Dalem, Prajapati, Beji dan Pura Wana. Mudah-mudahan, tidak terulang kembali,” ujarnya. 

Masih menurut Dewa Alit, mengenai wisata alam, pihak Dinas Pariwisata dan BPBD sudah mengeluarkan imbauan untuk antisipasi. Hal ini karena cuaca tidak menentu. “Pada prinsipnya dari kejadian ini, pengelola dari Desa Adat Padangtegal telah bertanggung jawab. Kami sudah koordinasi dengan keluarga para korban,” ujarnya.

General Manajer Monkey Forest, Anak Agung Bagus Bhaskara mengatakan, selama ini semua pohon yang ada di Monkey Forest dirawat dengan baik. Bahkan pohon beringin yang tumbang tersebut, sebelumnya dinyatakan sehat. Namun saat kejadian tiba-tiba angin berembus sangat kencang yang menyebabkan pohon beringin tumbang. 

“Perawatan terhadap pohon rutin kami lakukan, pemangkasan termasuk pemotongan besar. Kami juga memiliki alat dan petugas untuk hal itu. Terkait kejadian kemarin, para korban langsung dibawa ke rumah sakit pakai ambulans sini. Semua biaya korban ditanggung asuransi, kami kerjasama dengan Jasa Raharja plafon dari Rp 100 juta sampai Rp 1 miliar,” ujarnya.

Dia menjelaskan, setelah kejadian, pihaknya melakukan penutupan Monkey Forest Ubud. “Pada waktu kejadian, kami tutup dan fokus terhadap korban dan keluarga sehingga mereka dapat kenyamanan meskipun tertimpa musibah. Kami juga koordinasi dengan pemerintah untuk berbicara dengan konsulat. Itu fokus kami saat ini,” ujarnya.

MONKEY Forest - Sampai kapan penutupan objek wisata yang terkenal dengan kera-kera dan panorama hutan di Ubud ini? 
Apakah pada liburan Natal dan Tahun Baru sudah kembali dibuka untuk kunjungan wisatawan?
MONKEY Forest - Sampai kapan penutupan objek wisata yang terkenal dengan kera-kera dan panorama hutan di Ubud ini?  Apakah pada liburan Natal dan Tahun Baru sudah kembali dibuka untuk kunjungan wisatawan? (Pixabay)

Saat Tribun Bali mendatangi Monkey Forest Ubud pada Rabu (11/12), objek wisata ini masih ditutup. Sejumlah wisatawan yang hendak berkunjung pun disuruh 'putar-balik' oleh petugas. Saat ini, pihak pengelola fokus dengan pembersihan TKP, baik secara sekala maupun niskala.  

Agung Bhaskara juga menjelaskan, kondisi para korban yang mengalami luka-luka sudah mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit di Ubud. “Yang satu sudah operasi besar, tahap pemulihan. Yang satu bengkak di kaki. Yang satu lagi luka kecil. Untuk korban yang meninggal menunggu pihak keluarga. Kabar dari Pak Sekda, dua hari lagi keluarga dari Korea tiba. Kami ikut mengurus kedatangannya,” ujarnya.

Agung Bhaskara mengatakan, sebenarnya sebelum kejadian terjadi, pihaknya telah memberikan imbauan pada pengunjung mengingat cuaca sangat ekstrem. “Sejak awal, ketika ada tamu berkunjung kami tanyakan ke pengunjung ini cuaca lagi tidak baik, kami dalam pengawasan kondisi terbuka. Di awal imbauan kami berikan di loket tiket. Beberapa tamu terkadang dia ingin merasakan hutan hujan tropis, suasana alami,” ujarnya.

Sementara itu, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar telah berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal Prancis dan Korea Selatan di Bali. “Saat ini kami sudah berkoordinasi dengan masing-masing kedutaan untuk penanganan jenazah warga negara asing tersebut. Dan kami sedang menunggu perwakilan dari keluarga atau kedutaannya untuk menangani korban warga negara asing tersebut,” ujar Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar, Ridha Sah Putra, kemarin. 

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Tjok Bagus Pemayun, meminta hal ini menjadi perhatian khusus pemerintah Kabupaten Gianyar. 
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Tjok Bagus Pemayun, meminta hal ini menjadi perhatian khusus pemerintah Kabupaten Gianyar.  (Tribun Bali/ Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami)

Mitigasi Bencana

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Tjok Bagus Pemayun meminta kejadian pohon tumbang di kawasan Objek Wisata Monkey Forest menjadi perhatian khusus Pemkab Gianyar. “Ini menjadi atensi Pemda Gianyar terutama Kadis (Kepala Dinas) Pariwisata Gianyar. Di bawah DTW-DTW akan (diketatkan) stafnya,” kata Pemayun saat ditemui di Jayasabha, Rabu (11/12). 

Ia juga mengatakan sangat prihatin atas kejadian tersebut dan telah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar untuk langkah selanjutnya. “Saya ikut prihatin dan berbelasungkawa. Kejadian ini sudah kami komunikasikan dengan Kepala Dispar Kabupaten Gianyar untuk komunikasi lebih lanjut. Untuk sementara objek wisatanya ditutup dulu,” imbuhnya. 

Pihak pengelola telah menangani korban yang mengalami luka-luka, sementara biaya pengobatan ditanggung badan pengelola kawasan wisata tersebut. “Yang kedua, yang sakit-sakit sudah di-handle dan ditanggung semua oleh badan pengelola. Ketiga, asuransi juga sudah,” lanjutnya.  

Terkait dengan insiden tersebut, Dinas Pariwisata Provinsi Bali sebelumnya sudah mengingatkan seluruh pengelola objek wisata di Bali untuk memperhatikan faktor keamanan dan kebersihan, terutama menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pemayun menekankan pentingnya kesiapan dalam menghadapi cuaca yang tidak menentu, mengingat musim pancaroba dan hujan yang sering melanda Bali. 

“Kami sebelumnya sudah mengingatkan teman-teman Kadis Pariwisata se-Bali, bahwa pastikan menyambut Nataru. Satu dari sisi keamanan, sarana-prasarana, kedua, kebersihannya, sehingga semua itu bisa nyaman. SOP-nya harus pastikan itu ada. Itu meminimalisir kejadian-kejadian yang kita tidak inginkan,” jelas Pemayun. 

Terkait penutupan Monkey Forest, Pemayun menyatakan tempat wisata tersebut akan ditutup sementara hingga dinyatakan siap dan layak untuk dikunjungi kembali. “Ditutup sementara, sampai semua itu bisa berjalan,” kata Pemayun.  

Dinas Pariwisata Provinsi Bali juga telah meminta kepada pengelola objek wisata untuk memetakan kondisi pohon-pohon yang ada, mengingat cuaca yang sering berubah-ubah. “Badan pengelola sudah memetakan, apalagi khan sebelumnya lama keringnya. Sekarang ditambah musim pancaroba, hujan. Sekarang masih didalami yang penting kita memitigasi bencana,” tegas Pemayun. 

Penutupan Monkey Forest akan terus dievaluasi sesuai dengan perkembangan dan langkah-langkah mitigasi yang diterapkan. “Kalau sudah oke, mungkin bisa di-expose lagi,” ujarnya. (weg/zae/sar)

 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved