Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Budaya Bali

CATAT! Lubdaka Disiksa Atas Perbuatannya Semasa Hidup Baru Diselamatkan Dewa Siwa, Makna Siwaratri

Perlu dipahami bahwa Siwaratri bertepatan dengan hari ke-14, paruh gelap (panglong ping 14) bulan ketujuh (Magha).

Tayang:
Pixabay
Dewa Siwa dipuja saat Siwaratri, simak dan pahami maknanya dalam kisah Lubdaka. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASARSiwaratri tahun ini, jatuh pada Senin, 27 Januari 2025. 

Perlu dipahami bahwa Siwaratri bertepatan dengan hari ke-14, paruh gelap (panglong ping 14) bulan ketujuh (Magha).

Untuk memahami makna Siwaratri, bisa dengan memahami kisah Lubdaka. Simak kisahnya berikut ini. 

Baca juga: PUTU A Maling Berkali-kali di Warung Wayan Loji di Klungkung, Ditangkap Subuh Saat Congkel Warung!

Baca juga: JENAZAH Made Arya Dipulangkan Besok dari Amerika, PMI Terkena Kanker, Ini Estimasi Tiba di Bali

Umat sembahyang Siwaratri.
Umat sembahyang Siwaratri. (Tribun Bali)

Dikisahkan bahwa Sang Lubdhaka berangkat berburu kembali. Ia melakukan perjalanan seorang diri, menuju ke arah timur laut atau dalam istilah Bali dikenal dengan arah kaja kangin.

Ia berjalan melewati desa-desa sepi, dengan atap alang-alang, ijuk berserakan, menandakan jarang orang datang ke sana. Sampai petang ia masih berputar-putar di hutan itu, hingga ia menemukan danau di hutan tersebut yang sangat luas. Lubdaka yang lelah dan belum mendapatkan buruan, akhirnya beristirahat di sana.

Alam bebas yang liar membawa angin sepoi-sepoi, angin dingin yang membuat tubuh Lubdaka menggigil. Ia semakin merinding, karena tak ada satupun suara binatang malam selain suara desiran angin. Hal yang sangat aneh untuk hutan dan danau seluas itu. Sampai malam tiba, akhirnya Lubdaka memilih berhenti di sana.

Sebab sebelumnya, ia merasa dirinya hanya berputar-putar saja dan tidak menemukan buruan sama sekali. Lubdaka berpikir, dengan menunggu di atas dahan, siapa tahu ada binatang yang meminum air di danau. Malam semakin gelap, akhirnya Lubdaka memutuskan menginap di sekitar danau ini. Ketimbang ia tersesat di tengah hutan.

Ia berdiam diri di atas pohon, menghindari sergapan hewan buas. Kala itu ia naik ke atas pohon Maja atau Bilwa, yang ada di pinggir danau. Matanya mulai mengantuk, mulutnya menguap dengan lebar. Karena takut tertidur, ia memetik satu per satu daun Maja sebagai pengusir kantuknya. Ia tidak tahu di tengah danau terdapat Siwa Lingga.

Satu per satu daun Maja berkumpul di Siwa Lingga itu. Lubdaka yang kelelahan, akhirnya melihat mentari pagi akan naik dari ufuk timur. Ia pun senang karena malam telah berakhir, dan segera turun dari pohon Maja. Walaupun tak mendapat buruan, setidaknya ia aman sampai pagi. Sesampainya di rumah, anak dan istrinya girang. Mengira Lubdaka membawa pulang hasil buruan untuk dimasak dan disantap.

Harapan mereka pupus, tatkala melihat tangan kosong sang ayah. Waktu berlalu, pagi dan malam silih berganti, usia terus berjalan. Sampai tiba waktunya Lubdaka sakit keras, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Upacara pengabenan pun dilakukan, agar roh Lubdaka tenang dan bersatu disisiNya.

Tapi tidak ada yang tahu, atmanya melayang-layang di angkasa dengan penuh kesedihan, tanpa tahu jalan mana yang harus dilalui. Diantara kesedihan Lubdaka, ada karunia yang menanti. Dewa Siwa yang mengetahui ihwal Lubdaka, tatkala malam Siwaratri tidak berburu dan tetap melek. Akhirnya memberikan karunia pada rohnya.

Dewa Siwa teringat, tatkala itu Lubdaka secara tidak sadar telah melakukan brata Siwaratri, salah satunya dengan Jagra atau terjaga dan tidak membunuh binatang. Akhirnya Dewa Siwa mengutus serdadu Siwalaya yang bernama Ganabala, untuk menjemput Lubdaka dan membawanya kehadapan beliau.

Namun di sisi yain, Sang Yamadipati atau Bhatara Yama mengutus Yamabala untuk menangkap Lubdaka. Yamabala atau Kingkaralaba, dengan cepat mendapatkan roh Lubdaka yang kebingungan itu. Ia pun diadili karena membunuh atau memburu semasa hidupnya. Pasukan Ganabala pun tiba, dan melihat Lubdaka disiksa serta diadili. Hal ini membuat pertempuran dua pasukan tak bisa dihindari.

Akhirnya pihak Yamalaba kalah, dan Ganalaba berhasil membawa Lubdaka menghadap Dewa Siwa. Di Siwaloka, dengan ramahnya Dewa Siwa menerima kedatangan roh Lubdaka. Karena baktinya saat malam Siwaratri, atau malam tatkala Dewa Siwa beryoga semadi. Akhirnya Lubdaka diberikan anugerah, dan memberikan tempat untuknya di Siwaloka. Demikian kisah Lubdaka diabadikan dalam lontar Siwaratrikalpa.

Namun perlu dipahami, bahwa dengan jagra dan puasa tidak serta merta menghapuskan dosa manusia. Sebab Lubdaka pun harus menikmati dulu penyiksaan atas perbuatannya semasa hidup. Baru setelah itu ia diselamatkan Dewa Siwa. Sebab sejatinya hukum karmaphala tidak mengenal apapun dan siapapun. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved