Berita Viral
Kisah Unik di Balik Viral Gambelan Baleganjur Bali Margadarshakah Jadi Backsound Velocity Tiktok
Inilah Kisah Unik di Balik Viral Gambelan Baleganjur Bali Margadarshakah Jadi Backsound Velocity Tiktok
Penulis: Putu Kartika Viktriani | Editor: Putu Kartika Viktriani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Belakangan ini, tren Velocity di platform TikTok menarik perhatian hingga banyak pengguna yang tak ingin ketinggalan fenomena viral ini.
Salah satu elemen yang membuat tren ini semakin menarik adalah penggunaan backsound musik khas Bali, yaitu gambelan baleganjur berjudul Margadarshakah.
Lalu seperti apakah kisah unik di balik gambelan ini, berikut ulasan selengkapnya!
Margadarshakah: Karya Pemuda Banjar Pitik yang Mendunia
Gambelan baleganjur Margadarshakah merupakan hasil garapan kreatif pemuda Banjar Pitik, Pedungan, Denpasar, Bali.
Baca juga: Ramalan Baik Buruknya Hari Besok 2 April 2025 sesuai Kalender Bali, Rabu Wage wuku Warigadean
Seiring dengan populernya tren velocity, komposisi ini pun semakin dikenal luas dan menjadi viral di TikTok.
Menurut salah satu komposer, Putu Gede Bramasta Yoga S.Sn, yang juga anggota Sekaa Gong Gita Swara Dharma Kanti Banjar Pitik Desa Adat Pedungan Denpasar Selatan, karya ini diciptakan bersama dua rekannya, yaitu Mangnik dan Wi Saras.
"Nah dan kebetulan gending ini viral pada bagian awalnya yang kebetulan tiang sendiri yang buat nika," papar Bramasta Yoga saat diwawancarai, Selasa, 1 April 2025.
Inspirasi di Balik Margadarshakah
Bramasta Yoga mengungkapkan bahwa ide garapan ini muncul secara spontan. Gending yang dihasilkan pun mendapat inspirasi dari musik DJ.
"Dan juga kebetulan ritme dari garapan tersebut sudah pernah di pakai oleh kakak tiang yaitu I Made Subawa di banjar pada tahun 2016-an kalau tidak salah," imbuhnya.
Ritme tersebut kemudian disempurnakan dengan konsep baleganjur ngarap, memberikan suasana baru yang membuat pendengarnya tanpa sadar ikut bergerak mengikuti alunan musik.
Margadarshakah sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti penuntun atau pengantar.
Garapan ini terinspirasi dari kepercayaan masyarakat Hindu di Bali mengenai beras kuning (sekar ura) yang ditebar serta penggunaan Manuk Dewata (burung cendrawasih) dalam upacara palebon.
Burung ini dipercaya sebagai penuntun dan penghantar arwah menuju alam Nirwana.
"Terinspirasi dari beras kuning dan Manuk Dewata sebagai penuntun serta pengantar sang mendiang, memiliki kesamaan dengan tumpah ruah krama adat penyandang bade yang bahu membahu, bergotong-royong mengantarkan dan menuntun sarira sang mendiang menuju tempat perabuan," katanya.
Representasi Prosesi Palebon dalam Karya Seni
Margadarshakah menggambarkan semangat gotong royong krama adat dalam prosesi palebon. Dalam penggarapannya, sekitar 25 hingga 30 penabuh terlibat untuk menyempurnakan komposisi ini.
Karya ini pertama kali dibuat pada akhir Juli 2024 dalam rangka mengikuti lomba Masikianfest yang diselenggarakan oleh Yowana Kota Denpasar.
Dengan waktu pengerjaan hanya dua minggu, garapan ini kemudian dilombakan pada 4 Agustus 2024.
"Dan juga karya ini meraih juara 1 se-Bali dalam lomba baleganjur ngarap pada event Masikianfest itu," imbuhnya.
Viral di TikTok, Tak Disangka-Sangka
Bramasta Yoga mengaku terkejut saat mengetahui bahwa karyanya menjadi viral dan digunakan sebagai backsound dalam tren velocity di TikTok.
"Awalnya tiang tidak tahu kalau gending niki dipakai backsound untuk trend velocity. Karena banyak teman-teman tiang ngetag di TikTok, dari sana tiang tahu ternyata udah rame yang buat tren velocity dengan menggunakan backsound ini," akunya.
Ia pun mengungkapkan rasa bahagianya karena banyak orang mengapresiasi karya ini hingga viral di media sosial.
"Jujur tiang senang banyak yang mengapresiasi karya ini sehingga menjadi viral di media sosial. Tiang mengucapkan terima kasih kepada orang yang pertama kali menggunakan backsound ini untuk trend velocity," imbuhnya.
Dengan popularitas yang terus meningkat, Margadarshakah semakin memperkenalkan budaya dan seni gambelan Bali ke kancah global.
Viral di TikTok bukan sekadar tren, tetapi juga menjadi bukti bahwa warisan budaya bisa tetap relevan dan menarik bagi generasi masa kini.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.