PKB 2025

ARJA Tak Akan Mati! Pasang Surut Bak Gelombang, Persembahan Kawiya Bali di PKB 2025

Kini Arja masih hidup, diyakini tak jadi mati dan tak akan mati karena fleksibel, bisa beradaptasi di tengah derasnya arus digitalisasi dan modernisas

TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA
Pementasan Arja Lingsar dan diskusi Arja Tak Jadi Mati di Ksirarnawa Art Center Denpasar. 

"Kami tetap pentas setiap enam bulan. Bahkan saat pandemi, kami merancang pertunjukan Arja Lingsar di Pura Desa Adat Ubud. Sajian arja ini untuk nedunang sesuhunan, agar tak selalu dengan Calonarang," jelasnya.

Jurnalis budaya Made Adnyana Ole, turut menyumbang perspektif dari sisi budaya modern dan media. Ia menyebut arja sempat terancam punah, di tahun 1970-an karena salah satu penyebabnya para penari perempuan banyak yang menikah. 

Namun arja diselamatkan oleh adanya Arja Bon atau meminjam penari dan sanggar lintas daerah. "RRI adalah penyelamat arja. Kini ada arja muani (laki-laki) yang bangkit kembali," paparnya.

Ole melihat arja sangat fleksibel, dan bisa beradaptasi seperti salah satunya yang dilakukan oleh Prof. I Wayan Dibia yang mengangkat novel Sukreni Gadis Bali karya AA Pandji Tisna sebagai lakon.

Arja baginya punya keunggulan yakni sastra yang dinyanyikan. Ia menilai salah satu tantangan arja hari ini adalah durasi. 

Di tengah era digital, orang hanya sanggup menonton 1–7 menit. "Kenapa tidak dibuat arja berdurasi 1 menit? kenapa tidak dinaskahkan? Inilah tantangan baru, bagaimana arja tetap hidup di dunia yang serba cepat," tegasnya.

Empat suara ini menunjukkan bahwa arja tak akan mati. Selain itu dalam acara ini turut dipentaskan Arja Lingsar.

Sekaa Arja Gita Semara dari Desa Peliatan, Ubud, Gianyar menjadi penyaji karya, dengan konsep yang ditata oleh I Wayan Sudiarsa dan I Wayan Sukra, serta musik garapan Gamelan Suling Gita Semara.

Dalam pertunjukan ini, arja dikemas sederhana, namun sarat makna. Pementasan dilakukan dalam posisi duduk (lingsar) dengan busana minimalis, namun tetap mematuhi pakem arja secara penuh, mulai dari struktur papeson hingga jangkep. 

Lingsar, atau Linggih Sarat, melambangkan makna mendalam, duduk dengan penuh kesungguhan dan kesadaran, menyampaikan petuah-petuah kehidupan melalui sastra dan nyanyian.

Dengan tema “Ruwat Gumi”, Arja Lingsar menyuarakan keresahan masyarakat Bali di tengah gempuran modernitas dan pariwisata. 

Mulai dari isu global hingga problematika lokal, karya ini menjadi refleksi sosial yang mengajak pemirsa kembali ke jati diri dan spiritualitas Bali. 

Melalui lakon ini, masyarakat diajak untuk memohon pengampunan kepada Ida Sang Hyang Widhi dan berharap pulihnya keharmonisan semesta.

Tak hanya menyuguhkan dramatari, Arja Lingsar memperkaya panggung dengan kolaborasi tiga kesenian Bali: Arja, Sanghyang, dan Gambuh. 

Unsur musikalnya menggali pola-pola gegendingan Rangda dengan menggabungkan struktur Sesanghyangan dan Pegambuhan. 

Salah satu yang paling kuat adalah “Cihna Angga”, nyanyian yang menggambarkan sosok Rangda dari ujung rambut hingga kaki—sebuah bentuk nyihnayang angga yang dalam dan simbolis. (*)

 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved