Jalan Jebol di Bali
Jalan Bajera Tabanan Bali Dibuka, Kendaraan Besar dan Bus Melintas Lagi, Sopir Bus Sumringah
Saat melintasi jalan Bedugul banyak keluh kesah yang dialami sebab jalur tersebut sangat curam juga menambah biaya operasional
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kendaraan besar seperti bus dan truk tampak kembali melintas di jalur Tabanan-Mengwi pada Sabtu 19 Juli 2025, usai jalan nasional penghubung Gilimanuk-Denpasar yang berada di Desa Bajera usai diperbaiki.
Dari pantauan Tribun Bali, sejumlah bus dan truk tronton mulai melintas dari arah Tabanan menuju Terminal Mengwi, dan sebaliknya dari Denpasar menuju ke Tabanan.
Tanggapi hal ini, salah satu sopir bus ketika ditemui di Terminal Mengwi yakni Panji (31) mengatakan akan melintasi jalur normal yakni Tabanan menuju ke Gilimanuk usai hampir satu bulan melintasi Bedugul, dan Buleleng.
“Per hari ini sudah bisa lewat (jalur Tabanan) tujuannya ke Surabaya. Sebelumnya hampir setiap hari lewat Bedugul,” jelas Panji, Sabtu 19 Juli 2025.
Baca juga: Perbaikan Jalan Jebol di Tabanan Bali Telah Selesai, Kendaraan Tak Perlu Melintasi Jalur Buleleng
Diakuinya saat melintasi jalan Bedugul banyak keluh kesah yang dialami sebab jalur tersebut sangat curam juga menambah biaya operasional seperti bahan bakar.
Kini ia dapat melintasi kembali jalan nasional di Tabanan dengan membawa penumpang 14 orang menuju Surabaya.
“Banyak keluh kesahnya, ini dari Terminal Mengwi angkut penumpang sejumlah 14 orang. Ya cukup cepatlah perbaikan jalan di Bajera,” tutupnya.
Sebelumnya, sopir truk keluhkan jalur alternatif yang dilalui akibat jebolnya jalan nasional di Bajera Tabanan beberapa waktu lalu.
Biasanya saat melalui jalur Jembrana dan Tabanan menuju Kota Denpasar waktu yang dihabiskan sopir truk hanya 8 jam.
Namun kini karena jalur yang ditempuh lebih jauh yakni dari Gilimanuk menuju Karangasem, sehingga memakan waktu hingga 12 jam untuk tiba di Kota Denpasar.
Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu sopir truk pengangkut barang bangunan yakni Suranto (50).
Selain mengeluhkan jauhnya jalur alternatif, Suranto juga mengatakan jalur tersebut sangat ekstrem untuk dilalui truk berukuran besar.
“Ya terdampak. Soalnya ngaruh dari kita harus muter, harusnya kita hitungnya 8 jam dari Pelabuhan ke sini sampai. Kita sekarang Karangasem bisa 12 jam. Medan jalannya ngeri nanjak, tikungannya tajam, banyak pohon pendek-pendek jadi banyak kena ranting pohon. Kita juga lewat sono (sana) itu maksa karena tidak ada jalan lagi,” jelasnya, Selasa 15 Juli 2025.
Kumpulan Artikel Bali
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.