Berita Gianyar
Gelombang Mengganas Tak Ada Ikan di Permukaan, Nelayan Pantai Lebih Enggan Melaut
Hal tersebut merupakan siklus tahunan di pantai selatan Bali, salah satunya di areal Pantai Lebih, Kabupaten Gianyar.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Memasuki bulan Agustus, gelombang laut mengganas.
Hal tersebut merupakan siklus tahunan di pantai selatan Bali, salah satunya di areal Pantai Lebih, Kabupaten Gianyar.
Dalam kondisi seperti ini, para nelayan pun yang sebagian besar nelayan pancing itu enggan melaut.
Baca juga: Klenteng Ling Gwan Kiong Tuntas Direstorasi, Bakal Jadi Daya Tarik Wisata di Pelabuhan Buleleng
Bukan karena takut gelombang. Namun dikarenakan ikan tidak ada di permukaan, sehingga sulit mendapatkan hasil.
"Ombaknya sangat rusak, ikan tidak ada di permukaan. Biasanya, meskipun gelombang tinggi tapi kalau ada ikannya, kami tetap melaut. Tapi sekarang memang ikannya yang tak ada, terlalu jauh ke dalam akibat gelombang rusak,' ujar nelayan Pantai Lebih, I Wayan Pindah (68), Jumat (8/8).
Menurut pria yang telah melaut sejak kecil, gelombang rusak seperti saat ini merupakan siklus tahunan yang datang setiap bulan Agustus.
"Ini memang siklus tahunan, setiap menjelang atau saat Agustus pasti seperti ini," ungkapnya.
Pindah mengatakan bahwa setelah bulan Agustus, biasanya ada banyak ikan seperti tenggiri, mahi-mahi, dan barakuda.
Namun, saat ini ikan tidak banyak. Meski demikian, harga ikan tetap normal, seperti ikan tenggiri dijual seharga Rp 70.000 per kilogram, sedangkan ikan tenggiri yang sudah bersih dijual seharga Rp 75.000 per kilogram.
Baca juga: TRAGEDI Bayi 3 Bulan Meninggal di RSUD Sanjiwani, Sekda Gianyar Ucap Belasungkawa
Pindah mengatakan, meskipun kondisi ikan sulit didapat. Namun beberapa saudaranya dan temannya tetap ada yang melaut. Hasil tangkapan merekapun dijual oleh Pindah.
"Selama tidak melaut saya tetap jualan ikan, menjual ikan yang ditangkap saudara dan teman yang maut," ujar pria yang membuka lapak ikan di pinggir Pantai Lebih itu.
Dia mengatakan, nelayan yang masih melaut, hanya mendapatkan tangkapan terbatas.
Jika nasib sedang bagus, paling banyak mereka mendapatkan satu ekor ikan dengan berat 10 kilogram.
"Jika nasib baik, bisa mendapatkan 1 ikan seberat 10 kilogram. Beda dengan saat musim lagi bagus, kami bisa dapat ikan ratusan kilogram dan bisa empat kali melaut dalam sehari," ujarnya.
Pantauan Tribun Bali, biasanya saat gelombang tinggi, air laut masuk ke areal parkir dan menyebabkan parkiran tergenang air laut. Hal tersebut bisanya menyebabkan rumah makan yang ada di areal parkir sepi pembeli.
Namun Jumat siang, parkiran kering, tidak ada genangan air laut seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut disebabkan adanya tembok yang dapat menghalau air laut meluber ke parkiran.
"Lima hari lalu gelumbang tinggi, tapi tidak sampai membuat parkiran banjir. Hanya basar saja" kata Pindah. (weg)
| Bertengkar Dengan Pacar, Penghuni Kos Di Gianyar Bali Hubungi 112, Polisi Langsung Turun Tangan |
|
|---|
| Kembangkan Pariwisata Danau Toba, BI dan Pemda Sumut Belajar ke Gianyar Bali |
|
|---|
| Sepekan, Satpol PP Gianyar Tertibkan 50 Gepeng, Kadis: Sekarang Kami Pantau Lewat CCTV |
|
|---|
| TERUNGKAP Identitas Ibu Penelantar Bayi di Blahbatuh, Mengaku Melahirkan Mendadak di Areal Sawah! |
|
|---|
| Polda Bali Mutasi Dua Kasat di Polres Gianyar, Narkoba dan Satlantas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/SEPI-AKTIVITAS-Para-nelayan-enggan-melaut-setelah-cuaca-buruk.jpg)