Sponsored Content
UPMI Bali Hidupkan ‘Bima Swarga’, Tafsir Sastra dalam Sendratari Sarat Makna
Tata musik tak sekadar mengiringi gerak, tetapi membangun suasana tiap adegan, mengatur ritme tari, hingga menegaskan karakter tokoh.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Kisah klasik Bima Swarga dari khazanah sastra Bali dihidupkan kembali oleh seniman-seniman muda Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali melalui sendratari yang digarap matang dan penuh pesan moral.
Pementasan ini hadir dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis 5 Februari 2026.
Pergelaran bertajuk Bima Swarga itu tampil sebagai tontonan sekaligus tuntunan.
Diiringi Gamelan Semarandana yang lembut dan sejuk, panggung Ksirarnawa sore itu berdenyut.
Baca juga: Penyuluh &Gen Z Ikuti Workshop Baligrafi Bulan Bahasa Bali, Harap Penegasan Penggunaan Aksara Bali
Tepuk tangan penonton—meski tak memadati ruangan—cukup menghidupkan energi para penari yang mengekspresikan kisah lewat gerak, ritme, dan suasana dramatik.
Tanpa dialog verbal, pesan cerita mengalir kuat. Seorang dalang, tukang tandak, serta tiga gerong perempuan mempertebal dimensi dramatik dan pengisahan.
Tata musik tak sekadar mengiringi gerak, tetapi membangun suasana tiap adegan, mengatur ritme tari, hingga menegaskan karakter tokoh.
Koreografi yang tertata rapi berpadu dengan komposisi musik, membuat alur cerita tetap terbaca jelas oleh penonton.
“Sendratari ini mengangkat karya sastra berbasis kearifan lokal Bali, Bima Swarga, dan kami ramu selaras dengan tema Bulan Bahasa Bali VIII, Atma Kerthi,” ujar Art Director Dr. I Gusti Darma Putra.
Secara alur, garapan dibagi dalam empat bagian. Bagian pertama menghadirkan flash back dan pembuka: kebimbangan Bima yang teringat Pandu dan Dewi Madri, disertai simbol kemunculan kupu-kupu di istana.
Bagian kedua membawa penonton ke suasana pertemuan Pandawa, dengan kegelisahan terkait amanat Dewi Kunti untuk mengutus putranya menuju Yama Loka. Bima yang murka akhirnya menyadarkan saudara-saudaranya untuk bersama menempuh perjalanan ke Swarga Loka.
Bagian ketiga menampilkan Yama Loka dengan figur raksasa dan satu atma, sarat pesan moral sebagai pedoman hidup.
Bagian keempat ditutup dengan peperangan di Yama Loka yang dramatik, termasuk adegan penolakan Bima melakukan sembah bakti dengan tangan ketiga—penegasan karakter dan konflik batin tokoh.
Gung Ade Dalang menjelaskan, fokus garapan tak hanya pada cerita besar Bima Swarga, tetapi juga mengeksplorasi maskot Bulan Bahasa Bali VIII: kupu-kupu.
“Dalam kepercayaan kearifan lokal Bali, kupu-kupu yang masuk pekarangan rumah diyakini sebagai tanda kehadiran leluhur,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/UPMI-Bali-Hidupkan-Bima-Swarga-Tafsir-Sastra-dalam-Sendratari-Sarat-Makna.jpg)