Pilkada Serentak di Bali
Unik dan Lucu di Pilkada Badung, KPPS Pakai Riasan Arja Cupak Grantang
“Lucu, tidak tegang. Semoga setiap pemilihan selalu begini,” ujar perempuan yang menghendaki pemimpin berintelektual dan berintegritas itu.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Langit Banjar Blungbang, Desa Penarungan, Mengwi, Badung, Bali bersinar cerah, Rabu (9/12/2015) pukul 09.00 Wita.
Sedikitnya, 120 dari 592 orang pemilih sudah menyesaki bale banjar atau TPS 8 untuk menggunakan hak pilihnya memilih Paslon Bupati/Wakil Bupati Badung periode 2016-2020.
Dari 574 TPS di Badung, suasana TPS 8 Banjar Blungbang paling berbeda.
Suasana adat dan budaya Bali sangat kental.
Hal tersebut bukan hanya karena para pemilih mengenakan pakaian adat madya, tetapi juga didukung Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang mengenakan seragam Arja Cupak Gerantang.
Yiniati Sucidewi (19) pemudi setempat mengungkapkan, pemilihan kali ini memiliki kesan berbeda.
Dalam pemilihan yang pernah diikutinya, suasananya terkesan angker.
Namun kali ini suasananya lucu dan santai karena semua angota KPPS mengunakan pakaian arja, yang tentunya mengocok perut dengan melihat riasan para punakawan.
“Lucu, tidak tegang. Semoga setiap pemilihan selalu begini,” ujar perempuan yang menghendaki pemimpin berintelektual dan berintegritas itu.
Terlihat dua orang punakawan bertugas di pendaftaran, dan seorangnya punakawan lainnya menjadi petugas penuntun pemilih.
Tokoh Grantang bertugas menjaga kotak suara, tokoh Penasar dan Bondres bertugas memberikan surat suara kepada pemilih, yang dipanggil satu persatu melalui pengeras suara oleh I Cupak.
Ketua PPS Penarungan, I Wayan Sutika, mengatakan latar berakang pemilihan kostum ini karena pihaknya ingin menghilangkan stigma masyarakat terhadap pemilu.
Yakni, pemilu itu seram dan penuh aroma persaingan.
“Selama ini masyarakat terkesan malas datang ke TPS, karena suasananya seram, penuh persaingan. Karena itu kami kemas agar terkesan religius, bukan persaingan,” katanya.
Menurut tokoh setempat, I Wayan Suyasa, Arja I Cupak lan I Grantak merupakan kesenian sakral di Banjar Blungbang yang sudah diwarisi secara turun menurun.
Setiap ada ritual Panca Yadnya, seni tradisional ini selalu dipentaskan.
“Ini memang kesenian yang masih ajeg di banjar kami. Selama ini ka nada beberapa yang tinggal di luar daerah, jadi saat inilah mereka, khususnya anak cucunya tahu bahwa di kampungnya ada kesenian Arja Cupak Gerantang,” ujar pria yang juga anggota DPRD Badung itu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/petugas-kpps_20151210_101418.jpg)