PKB 2025

ARJA Tak Akan Mati! Pasang Surut Bak Gelombang, Persembahan Kawiya Bali di PKB 2025

Kini Arja masih hidup, diyakini tak jadi mati dan tak akan mati karena fleksibel, bisa beradaptasi di tengah derasnya arus digitalisasi dan modernisas

TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA
Pementasan Arja Lingsar dan diskusi Arja Tak Jadi Mati di Ksirarnawa Art Center Denpasar. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dulu sekali, arja pernah digandrungi, lalu redup, lalu tumbuh, redup bagai gelombang.

Kini arja masih hidup, diyakini tak jadi mati dan tak akan mati karena fleksibel, bisa beradaptasi di tengah derasnya arus digitalisasi dan modernisasi.

Keyakinan arja tak akan mati ini, diamini empat pembicara dalam diskusi bertajuk Arja Tak Jadi Mati yang digelar di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Selasa 24 Juni 2025 serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB).

Dengan moderator Jero Penyarikan Duuran Batur, Rektor Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa arja tidak akan pernah mati.

 

Baca juga: TRAGEDI Kecelakaan! Truk Semen Terperosok ke Jurang di Bangli, Sopir Tak Tahu Medan, Ini Kondisinya

Baca juga: Jadwal PKB 2025 Masuk Hari Keempat, Dihiasi Pertunjukan Parade Joged Bumbung hingga Gong Kebyar

Pementasan Arja Lingsar dan diskusi Arja Tak Jadi Mati di Ksirarnawa Art Center Denpasar.
Pementasan Arja Lingsar dan diskusi Arja Tak Jadi Mati di Ksirarnawa Art Center Denpasar. (TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA)

"Sepanjang masih ada agama Hindu dan adat istiadat Bali, arja akan tetap hidup. Penonton mungkin menurun, tapi nafas arja tetap ada," ujarnya.

Ia menyebut, arja pertama kali muncul di Klungkung sekitar tahun 1814, dikenal dengan nama Arja Dadap, sebelum menyebar ke seluruh Bali, termasuk Singapadu yang kini menjadi pusat arja, juga Sibang di Badung dan beberapa daerah di Jembrana. 

Arja kemudian masuk ke radio melalui RRI Denpasar, berkat tokoh seperti Made Kredek, ayah dari Prof. Bandem.

"Saat ini, arja masih aktif di daerah seperti Singapadu dan Keramas. Bahkan arja tidak pernah absen dalam Pesta Kesenian Bali (PKB).

Dulu hanya sekadar balih-balihan (hiburan), kini menjadi bagian dari bebali (pertunjukan suci), bahkan sering dipadukan dengan upacara nedunang sesuhunan," tambah Prof. Suarta.

Sementara itu, Dr. I Ketut Kodi, SSP., M.Si., Dosen ISI Denpasar, menyoroti bahwa arja menyimpan kekuatan luar biasa karena menggabungkan sastra, pupuh, Bahasa Bali, dan nilai-nilai pranayama (pengendalian napas). 

Menurutnya, menarikan arja hal paling sulit dibandingkan seni lainnya. "Harus hafal tarian, gending, makna filsafat, gamelan, sampai harus mampu menjawab gending teman secara spontan," paparnya.

Ia pun berharap, agar arja di RRI tetap dihidupkan dan meminta pemerintah Bali serius mempertahankan ruang siar tersebut.

Dalam ranah pertunjukan langsung, I Wayan Sudiarsa, S.Sn., M.Sn., dari Sanggar Gita Semara Peliatan menyampaikan optimismenya terhadap kelangsungan arja

Ia yang mulai bergelut secara serius di dunia arja sejak 2019, menyebut bahwa arja kini harus bersaing dengan sinetron dan hiburan populer lain.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Medium

Large

Larger

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved