Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Badung

WASPADA! Sampah di Badung Belum Sepenuhnya Tuntas, DBD dan Leptospirosis Jadi Ancaman

WASPADA! Sampah di Badung Belum Sepenuhnya Tuntas, DBD dan Leptospirosis Jadi Ancaman

Tribun Bali/ISTIMEWA
SAMPAH PLASTIK - Kondisi sampah plastik di pantai Kedonganan Badung pada Kamis (12/3). 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Masalah sampah di Kabupaten Badung belum semuanya tuntas meski saat ini sampah residu sudah diijinkan dibuang ke TPA Suwung. Masyarakat masyarakat saat ini masih tetap diminta untuk tetap melakukan pemilihan.

Bahkan sampah-sampah yang belum diangkut diminta untuk dirapikan dan tidak ditaruh sembarangan. Mengingat jika sampah ditumpuk sembarangan akan menimbulkan penyakit.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Badung pun mengimbau masyarakat agar lebih waspada serta meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan.

Baca juga: Target Pura di Denpasar, Komplotan Spesialis Pencurian Ribuan Pis Bolong Digulung Polisi

Kepala Dinas Kesehatan Badung, dr Made Padma Puspita, mengatakan persoalan sampah tidak hanya berdampak pada estetika lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan munculnya berbagai penyakit menular. Menurutnya, penyakit yang kerap muncul secara musiman seperti demam berdarah dengue (DBD).

Tidak hanya itu,  ancaman penyakit lain akibat lingkungan yang tidak bersih juga tidak kalah serius, yang muncul akibat sampah yang tidak terurus dan dibiarkan begitu saja.

Baca juga: TERKINI! Dinkes Catat HIV Bertambah 2.039 Kasus di Bali, 31 Persen Pasien Dari Luar Bali 

"Tumpukan sampah dapat menjadi sarang berbagai faktor penyakit seperti tikus dan lalat. Kondisi ini berisiko memicu penyakit seperti leptospirosis, yakni infeksi bakteri yang ditularkan melalui urine tikus, serta penyakit diare akut akibat kontaminasi lingkungan," ujarnya.


Diakui penyakit leptospirosis berasal dari kencing tikus. Jika sampah menumpuk, tikus pasti datang dan yang berbahaya karena bisa menular ke manusia


 "Kalau penyakit musiman yang harus diwaspadai itu DBD. Sekarang karena kita masih dihadapkan masalah sampah penyakit leptospirosis juga harus diwaspadai," bebernya.


Selain itu, genangan air yang kerap muncul di sekitar tumpukan sampah juga dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab demam berdarah. Tak hanya itu, lingkungan kotor juga berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit lain seperti rabies, terutama jika berkaitan dengan hewan liar. 


Untuk itu, dr Padma menegaskan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, salah satunya dengan memilah sampah sejak dari sumbernya. 


"Gerakan pemilahan sampah yang telah digaungkan pemerintah daerah sangat baik dan harus dilakukan secara konsisten oleh masyarakat. Kalau bisa yang organik langsung diolah melalui taba modern atau tong komposter," sebutnya.


Lebih lanjut, dia mengingatkan bahwa Kabupaten Badung sebagai daerah tujuan wisata memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kebersihan lingkungan dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung sektor pariwisata. Maka, gerakan memilah sampah dari rumah, itu akan sangat membantu, jangan sampai sampah menumpuk dan menimbulkan masalah kesehatan baru. 


"Mari kita bersama-sama menjaga kebersihan. Ini bukan hanya untuk kesehatan, tapi juga untuk menjaga citra pariwisata Badung. Lingkungan bersih akan berdampak besar pada kesehatan masyarakat," imbuhnya. (*)

 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved