Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Gebrakan Pemimpin Bali

PEMPROV Bali Susun Program Pemetaan Ibu Melahirkan di Tahun 2026, Ini Tujuannya

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mulai menyusun program pemetaan data ibu hamil yang diproyeksikan akan melahirkan pada tahun 2026.

Tribun Bali/Ni Luh Putu Wahyuni Sari
SOSOK - Gubernur Bali Wayan Koster, mengatakan luas wilayah Bali terus menyusut akibat abrasi dan bencana, sementara populasi penduduk lokal juga menunjukkan tren menurun. 

TRIBUN-BALI.COM - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mulai menyusun program pemetaan data ibu hamil yang diproyeksikan akan melahirkan pada tahun 2026. Hal itu untuk menjaga keberlanjutan populasi krama Bali sekaligus mencegah penurunan penduduk asli.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan luas wilayah Bali terus menyusut akibat abrasi dan bencana, sementara populasi penduduk lokal juga menunjukkan tren menurun.

“Luas Bali sekarang 5.590 Km persegi hanya 0,1 persen dari luasnya Indonesia. Dan luas Bali ini terus berkurang, karena faktor abrasi, bencana dan sebagainya,” katanya, Kamis (4/12). 

Koster menyebutkan pertumbuhan penduduk Bali hanya 0,66 % , di bawah rata-rata nasional sebesar 1,04 % , dengan dominasi peningkatan berasal dari pendatang.

Baca juga: ASTUNGKARA Sempat Hilang Sehari, Nelayan Asal Sumberkima Bernama Tiyeeb Ditemukan Selamat!

Baca juga: TERNYATA Pura Bukit Sari Tertimpa Pohon Pala di Sangeh Baru Selesai Ngenteg Linggih, Tewaskan 1 Staf

“Pertumbuhan penduduk Bali dan terutama sekali penduduk lokal Bali, orang Balinya, populasinya menurun. Yang bertambah adalah pendatang. Jadi karena itu mesti diwaspadai ini,” tegasnya.

Ia menilai dampak program Keluarga Berencana (KB) dua anak pada era Orde Baru turut mempengaruhi berkurangnya keturunan masyarakat Bali, khususnya nama-nama tradisi empat kasta kelahiran.

“Karena itulah Nyoman dan Ketut di Bali hampir punah. Sekarang sudah langka kalau kita daftarin anak sekolah ke SD (Sekolah Dasar) yang ada Ketut-nya hampir enggak ada. Nyoman juga,” kata Koster.

Menurutnya, hilangnya nama-nama tersebut berpotensi menggerus identitas dan kearifan lokal Bali. “Ini harus kita jaga dalam konteks kearifan lokal Bali. Karena krama Bali yang yang empat itulah yang sebenarnya kita ajak untuk merawat gumi Bali,” ujarnya.

Untuk menjaga keberlanjutan populasi, Koster menyatakan Pemprov akan mendorong kebijakan baru yakni KB empat anak. “Karena itu sekarang saya memerlukan program enggak lagi KB dua anak, KB empat anak. Supaya Nyoman Ketut tetap terjaga,” ucapnya. 

“Jadi mulai dari 2026 sekarang sudah didaftar siapa yang hamil akan lahir 2026. Ada berapa ibu-ibu yang hamil sekarang di seluruh Bali sudah dipetakan di semua kabupaten, kota,” imbuhnya.

Ibu yang sedang mengandung anak ketiga dan keempat akan mendapat dukungan pemerintah. “Jadi yang hamil anak ketiga, anak keempat itu akan diurusin dari sejak hamil sampai anak lahir dan sekolah,” kata Koster.

Program ini, imbuhnya, bukan hanya soal peningkatan jumlah, tetapi menegaskan keberlanjutan budaya Bali.

“Begini tidak saja melestarikan budaya tapi melestarikan populasi nak Bali. Jadi bahaya kalau sampai terus berkurang populasinya orang Bali. Nanti kalau sampai terus berkurang, siapa yang akan menjaga Bali ini?” tegasnya.

Meski mendorong jumlah anak lebih banyak, Koster menegaskan program ini tetap mengedepankan prinsip keluarga harmonis. “Silakan bawa anak empat berencana, mau empat lima enam silakan. Asal nyidang, dengan syarat satu istri,” kata dia. (sar)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved