Seputar Bali
Penyakit LSD Bisa Pengaruhi Harga Ternak di Bali, Apa Sebenarnya Penyakit Lumpy Skin Disease ini?
Kasus penyebaran penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) di Jembrana menjadi perhatian serius mengingat hal ini bisa mempengaruhi harga ternak.
Membatasi Vektor: Penyakit ini dibawa oleh serangga. Isolasi membantu membatasi pergerakan serangga yang telah menghisap darah hewan sakit agar tidak berpindah ke area ternak sehat.
Keamanan Wilayah: Mencegah perpindahan ternak (lalu lintas ternak) keluar daerah yang dapat memicu wabah nasional.
Kenapa menyerang hewan ternak berupa sapi?
LSD bersifat spesifik inang (host-specific). Virus LSDV memiliki afinitas atau kecocokan biologis dengan sel-sel pada sistem imun dan kulit hewan pemamah biak tertentu, terutama sapi dan kerbau.
Virus ini tidak dapat bereplikasi pada manusia atau hewan non-ruminansia lainnya.
Apa hewan perantara (vektor) yang membawa LSD?
LSD tidak menular melalui udara, melainkan melalui perantara serangga penghisap darah (vektor mekanik), antara lain:
Lalat: Terutama lalat kandang (Stomoxys calcitrans).
Nyamuk: Berbagai spesies nyamuk yang menghisap darah ternak.
Caplak: Kutu atau caplak yang menempel pada kulit sapi.
Apakah hewan terjangkit bisa dimakan?
Bisa, dengan syarat. LSD bukan penyakit zoonosis, artinya tidak menular ke manusia.
Daging sapi yang terkena LSD tetap aman dikonsumsi asalkan:
Bagian kulit yang bernodul/benjol dibuang dan dimusnahkan.
Daging dimasak dengan suhu minimal 70°C dalam waktu yang cukup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Kondisi-peternakan-sapi-di-Klunkung-dok.jpg)