Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Seni Budaya

NOVEL Karya Ketut Sugiartha, Raih Hadiah Sastera Rancage 2026, Diramu dari Kisah Nyata tentang Kasta

Novel berbahasa Bali berjudul Lampah Sang Pragina karya Ketut Sugiartha jadi pemenang Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk kategori Sastra Bali.

Tayang:
ISTIMEWA
NOVEL - I Ketut Sugiartha menunjukkan novel karyanya berjudul Lampah Sang Pragina. Novel tersebut ditetapkan jadi pemenang Hadiah Sastra Rancage 2026. 

TRIBUN-BALI.COM - Novel berbahasa Bali berjudul Lampah Sang Pragina karya Ketut Sugiartha ditetapkan jadi pemenang Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk kategori Sastra Bali.

Novel Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha bersaing dengan 11 karya. Dari jumlah tersebut novel Ketut Sugiartha akhirnya menjadi pemenang. Keputusan ini berdasarkan penilaian Juri Sastera Rancage untuk sastra Bali, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra.

Hadiah ini diberikan Yayasan Kebudayaan Rancage Bandung yang diinisiasi sastrawan Ajip Rosidi dan telah memasuki usia ke-38. Di tahun ini, penghargaan tersebut diberikan kepada karya berbahasa daerah dari Sunda, Jawa, dan Bali. 

Baca juga: LUPAKAN Hasil Minor dan Fokus! Boris Kopitovic Minta Rekannya Bangkit Hadapi Persebaya Surabaya 

Baca juga: KECEWA Persebaya Gagal Jinakan 10 Pemain Dewa United, Persebaya Imbang Lawan Dewa United 1-1

Penulis novel, Ketut Sugiartha saat diwawancarai pada Senin (2/2) menjelaskan sebelum dibukukan, novel Lampah Sang Pragina ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di majalah online Suara Saking Bali dengan judul Mawa Madui. Dengan mengubah sudut pandang menjadi orang ketiga, novel ini kemudian diterbitkan dengan judul baru yakni Lampah Sang Pragina oleh Pustaka Ekspresi tahun 2025.

“Novel ini pada dasarnya merupakan transformasi dari novel saya sebelumnya yang ditulis dalam bahasa Indonesia berjudul Elegi Sang Penari,” ungkap Sugiartha yang telah menulis sejak tahun 1997 ini.

Novel Elegi Sang Penari yang kemudian ditulisnya kembali dalam bahasa Bali ini juga pernah dimuat bersambung di tabloid Nova tahun 1990-an dan kemudian dibukukan serta diterbitkan Balai Pustaka di tahun 2004.

Secara garis besar, novel karya pengarang kelahiran 9 November 1956 ini berkisah tentang seorang pemuda Bali yang memiliki bakat besar dalam dunia tari. Namun, karena terlibat dalam cinta terlarang, cinta antarkasta, ia terpaksa meninggalkan tanah Bali yang sangat dicintainya demi menjaga nama baik keluarga. Tinggal di Jakarta bersama pamannya tidak serta-merta membuatnya merasa nyaman. 

“Pada suatu titik, konflik dengan sang paman memaksanya minggat dari rumah dan memulai petualangan hidup yang tak kalah seru, sekaligus menorehkan berbagai konflik lain ke dalam batinnya,” ungkap Sugiartha yang pernah tinggal di Jakarta ini.

Hingga akhirnya, ia kembali ke Bali dan menemukan kembali jati dirinya. Bertolak dari peristiwa nyata yang dipadukan dengan pengalaman pribadi dan diolah melalui imajinasi, ketika dimuat di Nova sebagai cerita bersambung, Elegi Sang Penari mendapat sejumlah tanggapan dari pembaca. 

“Ada yang menghubungi saya melalui surat, ada pula lewat telepon, mengira kisah dalam novel ini benar-benar pernah terjadi dan menimpa penulisnya, mengingat ceritanya ditulis menggunakan pendekatan sudut pandang orang pertama ditambah penggunaan latar tempat dan peristiwa yang memang nyata adanya,” papar pria asal Tabanan ini.

Ia pun berharap, karya ini dapat menjangkau lebih banyak pembaca di Bali, mengingat kisah yang diangkat memang bertutur tentang Bali. 

Juri Hadiah Sastera Rancage, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra mengungkapkan, jumlah buku sastra Bali yang terbit pada tahun 2025 tercatat sebanyak 12 judul. Angka ini sedikit menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 14 judul. 

Penerbit Pustaka Ekspresi mendominasi dengan menerbitkan 11 dari 12 judul tersebut. Tema-tema yang muncul dalam karya sastra Bali tahun ini masih didominasi oleh tiga isu utama yakni konflik kasta, persoalan ilmu hitam (leak), dan kerusakan alam Bali akibat alih fungsi lahan.

Ia menilai, setidaknya ada tiga keunggulan yang membuat novel ini layak menjadi pemenang. Pertama, novel ini mengangkat tema klasik konflik kasta (wangsa) namun dengan penyajian yang orisinal dan tidak klise.

“Kedua, novel ini memotret realitas masyarakat Bali yang terbelah antara sikap konservatif dan modern dalam menerapkan adat, tanpa menonjolkan keberpihakan. Pengarang membebaskan pembaca untuk memilih posisinya sendiri,” ujarnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved