Bulan Bahasa Bali
Workshop Lontar Dan Aksara Pada Bulan Bahasa Bali 2026 Digelar Di Kura-kura Bali
Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali tidak hanya dilakukan secara konvensional, tetapi juga melalui sistem daring.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Ia mengaku sering melihat kreativitas para penyuluh Bahasa Bali di TikTok dan Instagram yang memberikan tuntunan menulis aksara Bali dan berbahasa Bali yang baik.
Dalam kesempatan tersebut, Alit Suryana juga mengingatkan pentingnya memahami tingkatan bahasa atau 'sor singgih' dalam Bahasa Bali sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak takut atau malu menggunakan Bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan malu berbahasa Bali. Jangan merasa kuno. Gunakan sehari-hari. Yang penting jangan memisuh,” sebutnya.
Menurutnya, Bahasa Bali merupakan identitas orang Bali. Bahkan ketika menggunakan Bahasa Indonesia di luar daerah, logat Bali tetap terasa.
“Bahasa Bali punika pinaka identitas, ciri khas ke-Bali-an kita,” tambahnya.
Ia berharap melalui festival dan lomba yang digelar, akan lahir tokoh-tokoh muda pelestari Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali di masa depan.
“Mungkin 20 tahun lagi adik-adik ini jadi tokoh di tempatnya masing-masing. Ajegang budaya Bali, pemekas Bahasa, Aksara, lan Sastra Bali,” tuturnya.
Sementara itu, dalam pelaksanaan kegiatan ini di BTID, sekitar 20 siswa SMP–SMA se-Kecamatan Denpasar Selatan dan sekitar 20 peserta dari kalangan umum meramaikan event ini.
Alit Suryana menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Festival Lontar dan Aksara Bali oleh BTID. Ia menegaskan aksara dan Bahasa Bali merupakan roh orang Bali.
“Aksara dan Bahasa Bali adalah roh orang Bali. Setiap napas orang Bali ada Bahasa dan Aksara Bali,” ungkapnya.
Ia juga mendorong agar kawasan KEK Kura-Kura Bali turut memperkuat identitas lokal, termasuk dengan mengenakan busana adat Bali setiap hari Kamis serta memasang aksara Bali di lingkungan kawasan.
Menurutnya, generasi muda Bali justru akan semakin dihargai jika mampu menguasai Bahasa Bali, Bahasa Indonesia, dan bahasa asing sekaligus.
Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, mengatakan kawasan KEK Kura-Kura Bali tidak hanya dikembangkan sebagai pusat komersial, tetapi juga mendukung pelestarian budaya lokal.
“Kegiatan ini berlangsung dua hari, hingga besok,” paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Workshop-Lontar-Dan-Aksara-Pada-Bulan-Bahasa-Bali-2026-Digelar-Di-Kura-kura-Bali.jpg)