Berita Bali
KOMITMEN Perketat Pengawasan, Polda Bali Tegaskan Pulau Dewata Bukan Sarang Organized Crime!
Namun, ia memberikan catatan penting bahwa Bali bukanlah markas bagi organisasi tersebut untuk beroperasi secara permanen.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM – Citra Bali sebagai surga pariwisata kembali terusik oleh aksi kriminalitas luar biasa yang melibatkan warga negara asing (WNA), seperti kasus penculikan yang berujung pada tindakan mutilasi sadis dialami Ihor Komarov (28).
Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Ariasandy memberikan sinyal kuat bahwa aksi keji ini bukanlah kriminalitas biasa yang tumbuh di lokal, melainkan rembetan konflik dari negara asal para pelaku dan korban.
Namun, ia tidak menampik adanya dugaan bahwa para pelaku merupakan bagian dari organized crime atau kelompok kriminal terorganisir di luar negeri. "Mungkin bisa jadi ya, kalau kita mencermati dari informasi di luar," ujar Kombes Pol Ariasandy, Kamis (12/3).
Namun, ia memberikan catatan penting bahwa Bali bukanlah markas bagi organisasi tersebut untuk beroperasi secara permanen. Fenomena yang terjadi saat ini lebih kepada pencarian kesempatan di saat target mereka berada di wilayah hukum Indonesia.
Baca juga: TAWUR Agung Kasanga di Catur Muka Dipuput 6 Sulinggih, Desa Adat Yangbatu Lomba di Malam Ngerupuk
Baca juga: JATUH Made Wirya ke dalam Sumur, Berhasil Dievakuasi Namun dalam Keadaan Meninggal Dunia!
"Bukan organisasi itu kemudian mereka bermain di Bali, tidak. Namun orang yang mereka incar, ya kaitan dengan persoalan mereka di negara mereka, kebetulan salah satunya ada di Bali lalu mereka lakukan itu gitu," tegasnya.
Rentetan kasus yang melibatkan WNA dalam pusaran organized crime seperti kasus sebelumnya yang melibatkan warga negara Australia memaksa Polda Bali untuk memperketat pengawasan. Antisipasi dilakukan secara berlapis, mulai dari langkah preventif hingga penguatan koordinasi internasional.
Kombes Pol Ariasandy mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan langkah preemtif dengan mengumpulkan perwakilan negara-negara asing atau konsulat yang ada di Bali. Pertemuan ini krusial untuk membangun kesadaran bersama mengenai perilaku warga negara mereka selama berada di Pulau Seribu Pura.
"Sudah beberapa kali, ada tiga kali kalau tidak salah kita mengumpulkan mereka para konsul ini untuk membicarakan persoalan warga negaranya yang ada di Bali dan terlibat kasus kriminal atau pelanggaran. Jadi kita mengajak mereka untuk sama-sama aware," bebernya.
Salah satu terobosan yang kini menjadi tumpuan Polda Bali dalam memantau pergerakan orang asing adalah aplikasi bernama Cakrawasi. Aplikasi ini dirancang untuk menutup ruang gerak oknum WNA yang mencoba bermain-main di bawah radar kepolisian.
Melalui sistem ini, setiap penyedia jasa penginapan, mulai dari hotel berbintang hingga vila privat, wajib menyetorkan data identitas tamu asing secara real-time.
"Kita berupaya mengetahui pergerakan para WNA ketika melakukan kegiatan pariwisata di tempat kita," tuturnya.
Ke depannya, sistem pengawasan ini tidak hanya berhenti di penginapan, tetapi akan merambah ke sektor jasa transportasi seperti rental mobil dan motor.
Polda Bali berkomitmen untuk meningkatkan intensitas koordinasi ini guna menjamin bahwa Bali tetap menjadi destinasi yang aman bagi wisatawan yang berniat baik. (ian)
| Bareskrim Gelar Perkara Kasus Grand Bumi Mas Bali, Kuasa Hukum Idajanie Surati Kapolri |
|
|---|
| 35 WN India Segera Jalani Sidang di Bali, Kelola Situs Judi Online dengan Omzet Rp8 Miliar Per Bulan |
|
|---|
| Bali Jadi Tuan Rumah Event Internasional FHTB 2026, Diikuti 200 Perusahaan dari 14 Negara |
|
|---|
| Menteri LH Diganti, Bagaimana Nasib PSEL dan Penutupan TPA Suwung? |
|
|---|
| Sampah Jadi Isu Serius di Bali, AMSI Bali Gelar Aksi Bersih Pantai Sanur Rayakan HUT Ke-9 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Kabid-Humas-Polda-Bali-Kombes-Pol-Ariasandy-saat-ditemui-beberapa-waktu-lalu-896.jpg)