Perang Timur Tengah
Bom Meledak Dekat Mess di Kuwait, Dua PMI Bali Sempat Ketakutan, BP3MI Pastikan Aman
Iqbal menjelaskan bahwa koordinasi cepat segera dilakukan setelah informasi tersebut sampai ke telinga pihaknya dan Dinas Ketenagakerjaan.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dua Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bali di Kuwait sempat melaporkan kekhawatiran mendalam setelah ledakan bom mengguncang pangkalan militer Amerika Serikat yang lokasinya berdekatan dengan tempat tinggal mereka.
Meskipun sempat memicu kepanikan keluarga di tanah air, Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Bali mengonfirmasi bahwa saat ini seluruh warga negara Indonesia di zona konflik Timur Tengah tersebut dalam kondisi aman dan terkendali.
Kepala BP3MI Bali, Muhammad Iqbal, mengungkapkan bahwa kedua PMI yang berprofesi sebagai terapis tersebut merasakan getaran hebat dan suara ledakan yang sangat kencang.
Situasi mencekam itu terjadi menyusul eskalasi konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat yang berdampak pada negara-negara sekitar, termasuk Kuwait.
Baca juga: Dampak Perang Amerika-Israel vs Iran, Disnaker Buleleng Intensif Pantau PMI di Timur Tengah
Iqbal menjelaskan bahwa koordinasi cepat segera dilakukan setelah informasi tersebut sampai ke telinga pihaknya dan Dinas Ketenagakerjaan.
"Kami langsung melakukan koordinasi dan menemukan profil mereka. Syukurnya, mereka baik-baik saja," ujar Muhammad Iqbal dalam Podcast di Kantor Tribun Bali, Denpasar, pada Jumat 13 Maret 2026.
Pihak BP3MI bahkan telah menerima video respons langsung dari para PMI tersebut yang menyatakan kondisi mereka sehat walafiat.
Mereka juga menyampaikan permohonan maaf karena sempat membuat keluarga di Bali panik akibat kabar yang beredar di media sosial.
Berdasarkan data BP3MI, terdapat lebih dari 3.000 pekerja migran asal Bali yang saat ini mengadu nasib di kawasan Timur Tengah, mulai dari Qatar, Kuwait, Arab Saudi, hingga Turki.
Secara nasional, Bali menduduki peringkat keenam sebagai daerah asal PMI terbesar dengan total mencapai 11.394 orang pada tahun 2025.
Besarnya jumlah warga Bali di sana membuat Iqbal menekankan bahwa pelindungan PMI kini menjadi prioritas utama kementerian, terutama melalui pembentukan Tim Reaksi Cepat atau Crisis Center.
Meskipun belum ada permintaan evakuasi atau kepulangan darurat, Iqbal mengakui bahwa konflik ini mulai berdampak pada mobilitas penerbangan.
Penundaan jadwal terbang menjadi kendala utama bagi PMI yang hendak pulang maupun berangkat.
"Data kami mencatat ada sekitar 24 orang dari Bali yang seharusnya berangkat, namun harus tertunda keberangkatannya," bebernya.
"Kami sangat menyayangkan hal ini karena mereka sudah siap bekerja, namun keamanan tetap yang utama," imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Bom-Meledak-Dekat-Mess-di-Kuwait-Dua-PMI-Bali-Sempat-Ketakutan-BP3MI-Pastikan-Aman.jpg)