Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Mengelola Keamanan Bali di Titik Irisan Tipis antara Nyepi dan Lebaran

Menakhodai keamanan di Bali saat kalender menunjukkan irisan sempit antara Nyepi dan rangkaian Lebaran bukanlah pekerjaan mudah.

Tribun Bali
Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran, Jannus TH Siahaan 

Keberadaan aparat harus dirasakan manfaatnya tanpa perlu terlihat secara mencolok yang dapat merusak esensi ritual keagamaan masyarakat setempat. Inilah esensi dari intelijen keamanan yang berbasis pada kearifan sosiologis.

Membedah lebih dalam dari perspektif stabilitas sosial dan politik keamanan, situasi ini memerlukan pendekatan yang jauh lebih komprehensif.

Masukan strategis pertama adalah penguatan kontrak sosial melalui diplomasi tingkat tinggi antar-pemuka kepentingan secara informal.

Keamanan di Denpasar tidak boleh lagi dipandang sebagai tanggung jawab tunggal kepolisian, melainkan hasil dari negosiasi sosial yang inklusif dan transparan.

Perlu ada pergeseran dari sekadar koordinasi formal menjadi kolaborasi organik antara kepolisian, Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Majelis Desa Adat. Hal ini krusial untuk menghasilkan protokol bersama yang sangat detail dan teknis.

Misalnya, kesepakatan mengenai volume suara azan atau penggunaan cahaya minimum di masjid-masjid saat malam Nyepi harus lahir dari kesadaran teologis yang disepakati bersama.

Jika kesepakatan ini muncul dari rahim komunitas, maka potensi resistensi akan berkurang drastis karena warga merasa memiliki tanggung jawab moral yang sama.

Masukan kedua menyangkut mitigasi risiko pada malam Pangerupukan yang sering kali menjadi titik didih emosi massa. Pawai Ogoh-ogoh yang melibatkan ribuan pemuda memiliki energi kolektif yang sangat besar dan eksplosif.

Dalam perspektif politik keamanan, energi ini adalah pedang bermata dua bagi stabilitas wilayah. Bisa menjadi ekspresi budaya yang luhur, namun bisa juga menjadi sumbu ledak konflik jika bersinggungan dengan euforia persiapan Lebaran.

Karena itu, pengamanan dalam fase ini tidak boleh bersifat represif atau kaku. Polisi harus menggunakan pendekatan “policing by consent” atau pemolisian berbasis persetujuan masyarakat secara sukarela.

Hal ini bisa dilakukan dengan memberdayakan tokoh-pemuda sebagai garda terdepan dalam meredam provokasi di lapangan. Kapolresta perlu memposisikan dirinya sebagai orkestrator yang memastikan bahwa setiap kelompok merasa diberi ruang dan waktu untuk berekspresi secara adil. Dengan kata lain, keadilan dalam pendistribusian ruang publik di malam krusial ini akan menentukan bagaimana citra negara dan Polri dibentuk di mata publik.

Ketiga, sangat penting untuk memperhatikan dimensi ekonomi keamanan yang sering kali terabaikan dalam perencanaan taktis. Lonjakan permintaan bahan pokok menjelang Lebaran yang berhimpitan dengan tutupnya pasar saat Nyepi dapat menciptakan guncangan harga.

Ketidakpuasan ekonomi sering kali berujung pada vandalisme atau penjarahan jika tidak diantisipasi dengan operasi pasar yang senyap namun efektif.

Kepolisian harus bertindak sebagai pengawas rantai pasok yang proaktif dan tegas terhadap spekulan. Pengawasan terhadap distribusi barang bukan lagi sekadar tugas unit tindak pidana tertentu, tapi bagian dari strategi kontra-intelijen.

Tujuannya adalah mencegah munculnya narasi kelangkaan barang yang dapat memicu kepanikan warga secara kolektif di tengah suasana religius yang sedang berlangsung.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved