Mengelola Keamanan Bali di Titik Irisan Tipis antara Nyepi dan Lebaran
Menakhodai keamanan di Bali saat kalender menunjukkan irisan sempit antara Nyepi dan rangkaian Lebaran bukanlah pekerjaan mudah.
Mengelola Keamanan Bali di Titik Irisan Tipis antara Nyepi dan Lebaran
Oleh: Jannus TH Siahaan
TRIBUN-BALI.COM - Menakhodai keamanan di Bali saat kalender menunjukkan irisan sempit antara Nyepi dan rangkaian Lebaran bukanlah pekerjaan mudah.
Bahkan boleh dikatakan sebagai ujian tingkat tinggi bagi seorang Kapolda Bali karena harus bertindak melampaui pakem keamanan konvensional.
Di satu sisi, ia tentu harus berhadapan dengan mandat menjaga kesucian Catur Brata Penyepian yang menuntut keheningan total, penghentian aktivitas ekonomi, dan sterilisasi ruang publik.
Di sisi lain, ia pun mau tidak mau harus mengelola denyut nadi umat Muslim yang sedang berada di puncak eskalasi ibadah Ramadhan menuju Idulfitri 1447H.
Baca juga: Jelang Penutupan Nyepi, Pelabuhan Gilimanuk Bernapas Lega, Antrean Pemudik Terurai, Arus Lancar
Momentum ini dipastikan secara kodrati melibatkan mobilitas massa, aktivitas ekonomi yang intens, serta tradisi mudik yang masif.
Ketegangan dua momen ini tentu akan menciptakan sebuah paradoks ruang dan waktu di lapangan.
Bagaimana negara, melalui tangan korps Kepolisian, hadir untuk menjamin hak beribadah tanpa mencederai kesakralan tradisi lokal yang telah menjadi hukum tidak tertulis sejak lama di Bali.
Baca juga: Gelar Tawur Labuh Gentuh Sasih Kesanga, Pemkab Bangli Bali Harmoniskan Alam Semesta Menjelang Nyepi
Tantangannya dipastikan akan menjadi semakin kompleks karena Bali juga dikenal sebagai kuali peleburan (melting pot) dengan tingkat heterogenitas tertinggi di Pulau Dewata. Di sini, setiap gesekan kecil di tingkat akar rumput memiliki potensi resonansi yang luas.
Bahkan, isu lokal bisa dipolitisasi hingga ke level nasional jika tidak dimitigasi dengan presisi.
Karena itu, seorang Kapolresta dituntut memiliki sensitivitas sosiopolitik yang tajam untuk memahami bahwa keamanan bukan hanya soal nihilnya tindak kriminal.
Baca juga: Berbarengan Nyepi, Muhammadiyah Imbau Takbiran Dilakukan di Rumah
Keamanan yang sebenarnya adalah terjaganya rasa keadilan dan kehormatan di antara dua kelompok massa yang memiliki orientasi aktivitas yang cenderung bertolak belakang tapi dilaksanakan dalam waktu yang nyaris bersamaan.
Secara teknis operasional, tantangan pertama yang menghadang adalah soal sinkronisasi ritme kehidupan yang kontradiktif ini.
Ketika Nyepi tiba, seluruh mesin kota harus berhenti berputar secara total.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Doktor-Sosiologi-dari-Universitas-Padjadjaran-Jannus-TH-Siahaan.jpg)