Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Skripsi Pakai AI Dibahas di Bali AI Summit, Dr Paulus : Boleh, Asal Setor Prompt dan Paham Isinya

Tantangan terbesarnya bukan pada alatnya, melainkan pada sejauh mana pengguna memahami apa yang dihasilkan oleh teknologi

Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Bali AI Summit di PIB College Tabanan, Bali, pada 9-10 April 2026. Skripsi Pakai AI Dibahas di Bali AI Summit, Dr Paulus : Boleh, Asal Setor Prompt dan Paham Isinya 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam menyusun skripsi dan karya ilmiah sering kali dianggap sebagai bentuk kecurangan akademik.

Namun, dalam gelaran Bali AI Summit 2026 pada 9-10 April 2026, Deputy Director of PIB College, Dr. Paulus Herry Arianto, M.A., CBC justru menawarkan perspektif yang lebih progresif sekaligus menantang integritas para akademisi.

Ia menegaskan bahwa pelarangan AI bukanlah solusi, melainkan peningkatan literasi digital yang menjadi kunci utama.

Dr. Paulus menyatakan bahwa di era sekarang, penggunaan AI dalam dunia pendidikan sudah tidak bisa dihindari.

Baca juga: Hadir di Bali, Menteri Hukum Desak Keadilan Royalti Digital dan Proteksi Karya Jurnalis dari AI

Tantangan terbesarnya bukan pada alatnya, melainkan pada sejauh mana pengguna memahami apa yang dihasilkan oleh teknologi tersebut.

Baginya, kejujuran akademik di masa depan akan diukur dari transparansi proses, bukan sekadar hasil akhir.

"Boleh tidak pakai AI untuk skripsi atau publikasi? Boleh, asal dia menyetor prompt (perintah) yang digunakan dan bisa menjelaskan hasilnya," kata Dr Paulus di PIB College Tabanan, pada Jumat 10 April 2026.

"Catatannya adalah bagaimana kita memastikan dia paham apa yang dikerjakan. Itu yang penting, bukan soal apa yang bisa dibuat oleh AI, tapi soal pemahaman penggunanya," tegasnya.

Ia menekankan bahwa literasi adalah pembeda utama antara pengguna yang bijak dan yang hanya mengekor tren.

Tanpa literasi, seseorang tidak akan mampu mengidentifikasi apakah jawaban yang diberikan AI benar atau salah.

Hal ini berkaitan erat dengan critical thinking yang tetap harus menjadi fondasi utama manusia.

Menurutnya, AI harus dipandang sebagai "penolong" yang membantu merumuskan masalah atau mencari referensi, namun keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.

Kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan peran manusia juga dibedah secara mendalam oleh Dr. Paulus.

Ia mengibaratkan AI seperti sebuah pedang samurai. 

Di tangan yang tepat, samurai bisa digunakan untuk memotong bawang dengan presisi, namun di tangan yang salah, ia bisa menjadi senjata yang membunuh.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved