Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Virus ASF di Bali

Distan Bali Beber Hasil Uji Sampel Babi, 2 Ekor Babi di Gianyar Positif ASF, Klungkung Nihil

Dalam menyelamatkan lingkungan setempat, warga memilih membakar babi-babinya yang telah mati tersebut.

Tayang:
Istimewa
MATI MASSAL - Sejumlah anakan babi milik peternak di Banjar Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Gianyar mati, Jumat 22 Mei 2026. (Ist) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Dinas Pertanian dan Peternakan (Distan) Provinsi Bali bergerak cepat menindaklanjuti laporan kematian ternak babi yang diduga akibat virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika. 

Berdasarkan pengujian sementara terhadap sampel yang diambil dari area peternakan di Temesi, Kabupaten Gianyar, ditemukan adanya kasus yang terkonfirmasi positif.

Dari total enam sampel yang diperiksa, dua ekor babi di antaranya dinyatakan positif terjangkit virus ASF, sedangkan empat sampel lainnya menunjukkan hasil negatif. 

“Yang di Temesi dari 6 sampel yang diambil 2 positif sisanya negatif dan masih proses,” jelas Kepala Distan Provinsi Bali, Wayan Sunada, Senin 25 Mei 2026.

Baca juga: Distan Bali Tanggapi Puluhan Ekor Babi Mati Mendadak, Sebut ASF Telah Jadi Penyakit Endemis di Bali

Seperti diketahui sebanyak 17 ekor anak babi (kucit) dan 9 ekor induk babi milik warga Banjar Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar mati mendadak. 

Di banjar tersebut, babi milik lima peternak mati mendadak. 

Dalam menyelamatkan lingkungan setempat, warga memilih membakar babi-babinya yang telah mati tersebut.

Peternak babi yang juga Kelian Banjar Susut, I Wayan Sudiantara mengungkapkan, sebelum mati, babinya mengalami sejumlah gejala, diawali suhu badan babi panas, tidak mau makan, setelah itu sesak nafas, lalu mati. 

“Gejalanya berlangsung selama tiga hari sebelum mati. Semoga ada tindak lanjut dari pihak terkait, carikan solusi agar masyarakat tidak takut beternak babi,” ujarnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar, I Made Dwitemaja saat dikonfirmasi beberapa sampel babi yang mati tersebut diuji laboratorium dan memang terdapat babi suspect ASF

“Memang ada yang mati karena suspect ASF,” ujarnya.

Sunada lebih lanjut menjelaskan, langkah konkret menekan laju penularan, pihaknya telah mendistribusikan cairan disinfektan kepada para peternak secara gratis. 

Namun, menurutnya, Langkah pencegahan mandiri di lingkungan kandang kini menjadi garda terdepan penanganan virus ini.

“Kalau peternak membutuhkan desinpektan untuk biodekuriti hubungi dinas pertanian kabupaten atau provinsi, ASF belum ada vaksin,” " ujarnya.

Mengingat komoditas babi sangat krusial di Bali, isu merebaknya Demam Babi Afrika ini sempat memicu kecemasan di tengah masyarakat. 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved