Virus ASF di Bali
Distan Bali Beber Hasil Uji Sampel Babi, 2 Ekor Babi di Gianyar Positif ASF, Klungkung Nihil
Dalam menyelamatkan lingkungan setempat, warga memilih membakar babi-babinya yang telah mati tersebut.
Salah satu warga Ketut Widanta saat dikonfirmasi mengakui jika semua babi peliharaannya telah mati.
Wabah yang sebelumnya telah ilang menurutnya kembali muncul hingga membuat dirinya rugi total.
“Semua mati babinya, tidak ada yang tersisa. Totalnya 60 ekor,” ujarnya. (sar/mit/weg/gus)
Kewaspadaan Kolektif dan Perketat Biosekuriti
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distan) Provinsi Bali Wayan Sunada mengingat belum adanya vaksin komersial untuk ASF, kedisiplinan peternak dalam menjaga kebersihan kandang menjadi satu-satunya kunci utama saat ini.
Untuk meminimalkan risiko penularan di area kandang, para peternak sangat disarankan menerapkan langkah-langkah preventif.
Pertama, membersihkan kandang secara berkala dan melakukan penyemprotan disinfektan.
Kedua, membatasi orang asing atau pengunjung yang keluar-masuk area ring satu peternakan.
Ketiga, memberikan pakan berkualitas dan menghindari sisa makanan (limbah dapur) yang berpotensi membawa agen virus.
Keempat, memisahkan atau mengisolasi babi yang baru dibeli terlebih dahulu sebelum digabungkan dengan kawanan ternak yang lama.
Mengingat ASF kini telah dikategorikan sebagai penyakit endemis di Bali, kewaspadaan kolektif dan kedisiplinan yang konsisten dari para peternak menjadi faktor penentu dalam memutus rantai penyebaran virus ini.
Hal senada dikatakan Kepala Dinas Pertanian (Distan) Klungkung, Ida Bagus Juanida.
Menurutnya sampai saat ini di Indonesia belum tersedia vaksin ASF.
Padahal ASF ini sangat cepat menyebar, dan tingkat kematiannya sangat tinggi.
Sehingga menyebabkan kerugian ekonomi besar ke peternak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Sejumlah-anakan-babi-milik-peternak-di-Banjar-Susut-Desa-Buahan-Kecamatan-Payangan.jpg)