Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Distan Bali Tanggapi Puluhan Ekor Babi Mati Mendadak, Sebut ASF Telah Jadi Penyakit Endemis di Bali

peternak disarankan untuk mengisolasi ternak babi yang baru dibeli sebelum dicampur dengan ternak lainnya.

Tayang:
Istimewa
Pemeriksaan Distan Bali pada ternak babi mati mendadak. Distan Bali Tanggapi Puluhan Ekor Babi Mati Mendadak, Sebut ASF Telah Jadi Penyakit Endemis di Bali 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Puluhan babi di wilayah Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, mati mendadak. 

Seorang peternak bahkan mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah karena 60 ekor babinya yang siap panen mati secara mendadak. 

Wabah itu diketahui muncul pada awal April 2026 lalu, karena satu per satu babi milik warga mati secara mendadak.

Usai di Canggu, dilaporkan sebanyak 25 babi mati mendadak di Payangan, Gianyar. 

Baca juga: MATI MASSAL! 26 Ekor Babi Milik Warga Payangan Gianyar Mati, Sempat Alami Sesak Nafas

Apakah kematian babi tersebut disebabkan oleh virus African Swine Fever (ASF). Sebab di Payangan kematian babi massal ini dialami oleh lima peternak, serta peternak babi di sejumlah banjar di Kecamatan Payangan juga mengalami nasib serupa.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Wayan Sunada, mengatakan meningkatnya pemberitaan dan unggahan di media sosial terkait kasus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika di Bali belakangan ini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. 

Diimbau masyarakat dan peternak agar tetap tenang serta tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi.

"ASF merupakan penyakit virus yang menyerang ternak babi dengan tingkat kematian tinggi. Penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung dengan babi terinfeksi, air liur, feses, sisa makanan berbahan babi (swill feeding), hingga peralatan dan manusia yang terkontaminasi virus. Meski demikian, penyakit ini tidak menular kepada manusia dan daging babi tetap aman dikonsumsi apabila berasal dari ternak sehat serta diolah dengan benar," jelasnya, Sabtu 23 Mei 2026.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Tim Teknis Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali bersama dinas yang menangani kesehatan hewan kabupaten/kota se-Bali telah menerjunkan tim kesehatan hewan untuk melakukan pemeriksaan lapangan dan pemantauan terhadap ternak babi di sejumlah wilayah.

Selain pemeriksaan lapangan, petugas juga terus memberikan edukasi kepada peternak terkait pentingnya penerapan biosekuriti secara ketat di kandang. 

Langkah ini dinilai sangat penting mengingat hingga saat ini vaksin ASF belum tersedia secara komersial sehingga pengendalian penyakit sepenuhnya mengandalkan penerapan biosekuriti dan sanitasi kandang yang baik.

Peternak diimbau rutin melakukan pembersihan kandang, penyemprotan disinfektan, membatasi keluar masuk orang ke area kandang, serta memastikan pakan yang diberikan berkualitas dan tidak berasal dari limbah makanan yang berisiko membawa virus. 

Selain itu, peternak juga disarankan untuk mengisolasi ternak babi yang baru dibeli sebelum dicampur dengan ternak lainnya.

Langkah karantina sementara tersebut penting dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan ternak dan mencegah potensi penularan penyakit ke seluruh populasi dalam kandang. 

ASF sendiri saat ini telah menjadi penyakit endemis di Pulau Bali

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved