Harga Kebutuhan Pokok di Bali
Warga di Denpasar Bali Tetap Beli LPG Non-Subsidi, Agung Berharap Tak Ada Kenaikan Lagi
Akibat kenaikan LPG non-subsidi ini, masyarakat ada yang beralih ke LPG subsidi 3 kg atau tabung hijau.
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Warga pengguna Liquefied Petroleum Gas (LPG) atau elpiji non-subsidi 12 kilogram (kg) di Kota Denpasar tetap membeli dan menggunakan tabung tersebut meski harganya merangkak naik. Harga LPG non subsidi 5,5 kg dan 12 kg mengalami kenaikan.
Harga LPG 5,5 kg sebelumnya Rp90 ribu kini menjadi Rp107 ribu naik Rp17 ribu. Sedangkan untuk LPG 12 kg dari Rp192 ribu kini menjadi Rp228 ribu naik Rp36 ribu.
“Lebih mahal, kalau kita di rumah pakai yang LPG 12 kilogram cuman memang lebih lama penggunaannya tidak terasa, tetap beli dan pakai walaupun harganya naik,” jelas seorang warga Denpasar, Agung Ariana saat ditemui Tribun Bali, Senin 20 April 2026.
Lebih lanjut ia mengaku tidak kaget setelah mengetahui harga gas LPG non-subsidi mengalami kenaikan. Sebab kata Agung, ia sudah memprediksi mengenai kenaikan harga terebut.
Baca juga: Usai Harga BBM, Kini Harga Gas LPG di Denpasar Ikut-ikutan Mengalami Kenaikan Signifikan
“Tidak kaget ada harga naik karena sudah memprediksi, karena situasi sekarang ini BBM (Bahan Bakar Minyak) sudah ada yang naik ya pasti imbasnya ke sini (LPG),” ujarnya.
Menurutnya, daya panas LPG non subsidi 12 kg berbeda pastinya dengan LPG subsidi 3 kg. Ia pun berharap ke depannya tak ada kenaikan harga lagi.
“Mudah-mudahan harganya tidak ada kenaikan lagi,” pungkasnya.
Direktur PT. Salimco Djaja Agen LPG Non PSO, Agung Made mengatakan penetapan harga tersebut dari Pertamina langsung yang sudah mulai berlaku per 18 April 2026 kemarin.
“Rata-rata customer kaget awalnya. Namun, namanya perubahan kita harus pakai patokan itu,” jelasnya ketika ditemui, Senin 20 April 2026.
Agung mengatakan terdapat penurunan permintaan usai harga LPG non-subsidi mengalami kenaikan.
Biasanya pembeli akan membeli tiga tabung sekalian, namun karena harganya naik tabung yang dibeli hanya dua.
Selain itu, penurunan permintaan juga disebabkan karena low season serta konflik geopolitik global.
“Kalau harga mungkin dampak perangnya. Kalau permintaan itu mungkin dampak season-nya. Biasanya kalau udah season-nya naik, penjualannya juga pasti naik. Cuma karena ini dampak perang, padahal penjualannya juga sedikit,” imbuhnya.
Akibat kenaikan LPG non-subsidi ini, masyarakat ada yang beralih ke LPG subsidi 3 kg atau tabung hijau.
“Ya mau nggak mau, karena harga masih sama belum ada perubahan. Mungkin itu masyarakat maunya,” terangnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Seorang-warga-berada-di-Agen-LPG-Non-PSO-di-Jalan-Waribang-Desa-Kesiman.jpg)