Berita Bali
Menatap Pergeseran Gaya Hidup Urban dan Digitalisasi Dari Work From Bali Hingga Berwisata
keterbatasan infrastruktur fisik seperti titik colokan listrik di area publik mulai memicu titik jenuh baru di kalangan pekerja digital.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dinamika kehidupan masyarakat urban yang bergerak cepat kini kian berkelindan dengan ketergantungan mutlak pada pemenuhan daya perangkat digital.
Fenomena ini tidak hanya memotret realitas pekerja komuter di kota-kota besar, namun juga telah meredefinisi lanskap sosiologis masyarakat lokal serta ekosistem pariwisata di Bali.
Di tengah tuntutan untuk selalu terhubung, mobilitas tinggi, dan tren bekerja dari mana saja, ketersediaan energi bagi gawai bukan lagi sekadar pelengkap.
Melainkan instrumen vital yang menggerakkan produktivitas dan dokumentasi modern.
Baca juga: Bapenda Denpasar Sukses Dongkrak Pajak Daerah Lewat Klaster Digital dan Aplikasi Terintegrasi
Aktivitas masyarakat urban saat ini ditandai dengan pola pergerakan yang nyaris tanpa jeda sejak sebelum matahari terbit hingga larut malam.
Gawai yang dipaksa untuk terus aktif guna memburu informasi maupun menuntaskan pekerjaan, memicu lonjakan kebutuhan terhadap solusi pengisian daya mandiri.
Kebutuhan ini bertransformasi dari sekadar fungsi teknis menjadi bagian dari ekspresi preferensi gaya hidup personal individu urban.
Direktur Representative Pisen Indonesia, William Hadibowo mengungkapkan bahwa karakteristik masyarakat yang selalu bergerak aktif menjadi alasan kuat mengapa adopsi teknologi pendukung daya kian krusial.
Karakter urban ini terlihat sangat jelas di Bali, yang mempertemukan mobilitas tinggi warga lokal dengan masifnya populasi wisatawan.
"Masyarakat urban itu keluar rumah kadang matahari belum keluar, terus baru balik lagi ke rumah pada saat harinya sudah gelap. Gadget menjadi hal yang penting dalam hidup kita," kata William dijumpai di Denpasar, pada Selasa 26 Mei 2026 petang.
"Di Bali ini, masyarakatnya urban dan always on the move, ditambah lagi dengan turis yang secara populasi cukup besar. Kalau di Bali, tidak mungkin di vila saja, mereka muter-muter ke pura, ke alam, dan sebagainya," imbuhnya.
Pergeseran ini juga merambah pada perubahan lanskap ruang publik dan pola kerja di Bali, fenomena Work from Bali (WFB) telah melahirkan ekosistem baru di mana kedai-kedai kopi kini beralih fungsi menjadi ruang kerja bersama (co-working space).
Akibatnya, keterbatasan infrastruktur fisik seperti titik colokan listrik di area publik mulai memicu titik jenuh baru di kalangan pekerja digital.
"Sekarang kafe-kafe sudah mulai rebutan colokan, karena dinamika orang kerja tidak cuma di kantor lagi. Meeting akhirnya di coffee shop," ujar dia.
"Dinamika saat ini, yang dibawa keliling tidak cuma handphone lagi, laptopnya juga ngikut. Kalau bawa charger tapi tidak ada colokan, juga tidak bisa mengisi daya," imbuhnya.
"Bali banyak sekali masyarakatnya yang work from Bali, terutama para pekerja yang sangat laptop user," jabar dia.
William mengonfirmasi bahwa penetrasi pasar global ini secara resmi telah menyasar Bali sebagai titik strategis sejak setahun lalu.
Dalam konteks pariwisata, kebutuhan untuk mendokumentasikan setiap momen secara instan menuntut perangkat digital terhindar dari kondisi kehabisan daya.
Selain itu, regulasi ketat dalam industri penerbangan global mengenai keselamatan transportasi juga memengaruhi perilaku wisatawan dalam memilih perangkat teknologi pendukung.
Sementara itu, Business Head Representative Pisen Indonesia, Sela Marlin Hendrawan memaparkan bahwa tren kebutuhan perangkat pemenuh daya portabel meningkat tajam seiring dengan lonjakan aktivitas perjalanan domestik maupun internasional.
Wisatawan kini kian selektif dan mengutamakan faktor regulasi keselamatan penerbangan internasional, seperti standarisasi sertifikasi keamanan.
"Tren saat ini sangat meningkat, terutama karena traveling juga sangat meningkat. Kalau berbicara traveling ke luar negeri, saat ini dibutuhkan sertifikasi khusus yang disebut CCC (China Compulsory Certifications)," ujarnya.
"Sertifikasi ini menjamin bahwa perangkat aman dibawa untuk penerbangan karena telah diuji secara ketat. Semua orang sekarang mencari yang maunya aman dan sudah bersertifikasi," imbuh Sela Marlin.
Lebih lanjut, Sela menjabarkan evolusi teknologi pengisian daya yang kini dituntut serba cepat melalui inovasi seperti teknologi transmisi energi C2 yang menekan kehilangan daya.
Hingga ambang minimum sekaligus mencegah perangkat menjadi panas serta teknologi GaN2 yang mereduksi ukuran fisik pengisi daya namun tetap mempertahankan kapasitas hantaran energi yang besar.
Ragam inovasi ini mencakup pengisi daya nirkabel magnetis dengan multi-posisi pantauan gawai, perangkat multifungsi yang terintegrasi untuk jam tangan pintar.
Hingga pengisi daya berkapasitas besar hingga 240 watt yang dirancang secara spesifik untuk menyokong kebutuhan pararel tiga unit laptop sekaligus bagi komunitas pekerja urban yang terbiasa berkumpul dan berkolaborasi.
Menanggapi fenomena pergeseran perilaku konsumen digital tersebut, industri ritel lokal di Bali dipaksa untuk ikut bertransformasi.
Pelaku usaha ritel tidak lagi bisa sekadar mengandalkan penjualan komoditas perangkat komunikasi utama, melainkan harus adaptif dalam menyediakan ekosistem pendukung gaya hidup modern yang terkurasi.
Pada kesempatan yang sama, COO Cellular World, Ni Wayan Yuliani menegaskan komitmen industri ritel di Bali dalam merespons arah baru gaya hidup digital masyarakat tersebut.
Kolaborasi strategis jangka panjang bersama mitra global dipandang sebagai langkah penting dalam menghadirkan pengalaman teknologi mutakhir bagi ekosistem lokal.
"Ini adalah milestone baru, milestone penting dan langkah baru bagi kami untuk terus menghadirkan produk-produk dengan pengalaman teknologi dengan gaya baru yang lebih modern, terutama bagi masyarakat Bali," kata Yuli.
"Komitmen kami bukan hanya menjual produk smart device, tetapi kami juga berkomitmen terus menghadirkan produk premium dan menghadirkan produk dengan teknologi lifestyle modern," sambung Ni Wayan Yuliani.
Langkah ekspansi ritel modern di Bali ini kini mulai merambah kawasan-kawasan pusat pertumbuhan urban dan kantong pariwisata utama.
Dengan titik penekanan sebaran yang tidak hanya berpusat di Denpasar seperti kawasan Teuku Umar.
Melainkan telah menjangkau wilayah episentrum pergerakan wisatawan asing dan komunitas ekspatriat digital seperti di kawasan Canggu serta kawasan Sanur. (*)
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Menatap-Pergeseran-Gaya-Hidup-Urban-dan-Digitalisasi-Dari-Work-From-Bali-Hingga-Berwisata.jpg)