Kenaikan Harga Bahan Pokok
HARGA Cabai Merah Melonjak 2,58 Persen, Bapanas Catat Harga Beras Premium Turun 0,73 Persen
Kenaikan ini kontras dengan harga bawang merah dan bawang putih bonggol yang justru turun masing-masing 0,53?n 0,66%.
TRIBUN-BALI.COM - Pergerakan harga pangan strategis nasional per 1 Februari 2026 masih cenderung tertahan. Panel Harga Konsumen Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan mayoritas komoditas utama mengalami penurunan terbatas atau stagnan. Namun, tren kenaikan harga cabai mulai menjadi sumber tekanan baru menjelang Ramadan.
Pada kelompok beras, harga beras premium tercatat turun 0,73 persen secara mingguan menjadi Rp 15.559 per kilogram (kg). Beras khusus lokal juga terkoreksi 0,18 % ke Rp 15.722 per kg. Sementara itu, beras medium relatif stabil di Rp 13.391 per kg dan beras medium non-SPHP bertahan di Rp 13.938 per kg.
Di sisi lain, beras SPHP yang berfungsi sebagai instrumen stabilisasi pemerintah naik tipis 0,07 % ke Rp 12.464 per kg. Kondisi ini mengindikasikan pasokan beras masih cukup terjaga, sejalan dengan upaya percepatan distribusi menjelang bulan puasa.
Tekanan harga paling nyata terlihat pada komoditas hortikultura. Harga cabai merah besar melonjak 2,58 % menjadi Rp 37.563 per kg dan cabai merah keriting naik 1,54 % ke Rp 37.406 per kg. Cabai rawit merah juga menguat 1,16 % ke Rp 57.115 per kg. Kenaikan ini kontras dengan harga bawang merah dan bawang putih bonggol yang justru turun masing-masing 0,53?n 0,66 % .
Baca juga: KOSTER: Kalau Sampai Budaya Bali Punah! Kena Kutuk Raga Ajak Mekejang, Saat Buka Bulan Bahasa Bali
Baca juga: MAMPU Atasi 1.040 Ton Sampah Per Hari, PSEL Denpasar Ditargetkan Beroperasi Januari 2027
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengakui cuaca ekstrem pada Februari–Maret 2026 berpotensi mengganggu distribusi dan memicu volatilitas harga pangan, terutama menjelang hari besar keagamaan nasional.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan, mengatakan kewaspadaan tersebut menjadi perhatian utama pemerintah dalam rapat koordinasi persiapan Ramadan dan Idulfitri.
“Kita juga mendapatkan informasi dari BMKG, secara umum faktor cuaca itu normal, tetapi perlu diwaspadai pada Februari dan Maret itu beberapa wilayah tertentu seperti Sulawesi dan Papua itu akan ada kemungkinan hujan,” ungkap Iqbal usai rapat koordinasi di kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Kamis (29/1).
Menurut Iqbal, Kemendag telah bersepakat dengan para distributor bahan pokok, termasuk Perum Bulog dan BUMN pangan yang tergabung dalam ID Food, untuk mempercepat distribusi sejak awal Februari agar pasokan sudah berada di daerah sebelum puncak musim hujan. “Kami juga telah berkomunikasi dengan Kementerian Perhubungan terkait kesiapan layanan pelabuhan, termasuk ketersediaan container,” tambahnya.
Sementara itu, harga protein hewani per 1 Februari justru melemah. Daging ayam ras turun 0,29 % menjadi Rp 39.218 per kg, telur ayam ras terkoreksi 0,81 % ke Rp 30.319 per kg, dan daging sapi murni turun tipis 0,08 % menjadi Rp 136.141 per kg. Daging kerbau, baik beku impor maupun segar lokal, juga mencatatkan penurunan terbatas.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengingatkan bahwa tekanan inflasi pangan pada awal Ramadan merupakan pola berulang setiap tahun.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyebut komoditas yang konsisten memberikan andil inflasi terbesar adalah daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit.
Di sisi lain, harga gula konsumsi turun 0,54 % menjadi Rp 18.159 per kg. Minyak goreng kemasan turun 0,63 % ke Rp 21.045 per liter dan Minyakita melemah 0,44 % menjadi Rp 17.545 per liter, meski minyak goreng curah naik tipis 0,14 % . Harga tepung terigu, baik curah maupun kemasan, mencatatkan koreksi terdalam di atas 1 % .
Dengan kondisi tersebut, stabilitas harga pangan per 1 Februari masih relatif terjaga. Namun, lonjakan harga cabai, faktor cuaca, dan pola musiman Ramadan menjadi kombinasi risiko yang perlu diantisipasi pemerintah agar tekanan inflasi pangan tidak meningkat dalam beberapa pekan ke depan. (kontan)
Fluktuasi Harga Terpengaruh Cuaca
Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri, menilai tren kenaikan harga pangan menjelang Ramadan 2026 merupakan pola berulang dan tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. “Kalau perbandingannya tahun lalu, sebenarnya polanya sama. Menjelang Ramadan itu pasti akan ada kenaikan,” ujar Abdullah dalam keterangan tertulis, Minggu (1/2).
Menurut Abdullah, hampir seluruh komoditas pangan cenderung mengalami kenaikan harga, terutama komoditas hortikultura. Namun, ia menegaskan bahwa kenaikan tersebut bukan dipicu kelangkaan pasokan. “Stok aman. Tidak ada kekurangan. Itu penting supaya tidak ada kepanikan dan panic buying,” ujarnya.
| ASTAGA, Anak di Bawah Umur Dianiaya di Klungkung, Bibi Korban Sadar Setelah Lihat Video Viral! |
|
|---|
| Viral Video Penganiayaan Remaja oleh Wanita di Klungkung, Korban Mengeluh Sakit di Kepala |
|
|---|
| Tanamkan Integritas Atlet, Savate Denpasar dan Taekwondo Bali Rajut Harmonisasi di Panti Asuhan |
|
|---|
| TPST Kesiman Kertalangu Denpasar Bali Akan Tambah Mesin 100 Ton, Tunggu Uji Coba Tahura I dan II |
|
|---|
| Dari Diragukan Jadi Tumpuan, Mahayastra Membawa Gianyar Ke Era Modern Tanpa Meninggalkan Budaya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Harga-cabai-rawit-di-Pasar-Kumbasari-Denpasar-tembus-harga-Rp-130-ribu.jpg)