Seniman Bali
PENARI Arja dari Tabanan I Nyoman Mongol Berpulang, Belajar Otodidak hingga Tampil dengan Arja Cupak
Sekitar tahun 1962, seni arja telah mengakar kuat dalam keluarganya, termasuk melalui kakaknya yang juga aktif di dunia arja.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Seniman arja otodidak dari Tabanan, Bali, I Nyoman Mongol berpulang. Ia mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat, 2 Januari 2026.
Prosesi pengabenan digelar Selasa, 6 Januari di Desa Adat Ole, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Nama I Nyoman Mongol mungkin kini jarang terdengar dalam percakapan seni Bali kontemporer. Namun bagi dunia arja, tari, dan seni ukir tradisi dirinya ada di dalamnya.
Dirinya juga merupakan salah satu seniman wijil. Ia bukan bagian dari panggung besar atau institusi resmi, melainkan hadir dalam denyut kehidupan masyarakat adat Bali. Nyoman Mongol Lahir di Ole sekitar tahun 1942.
“Perjalanan seninya bermula sebagai penari wijil, belajar langsung dari pengalaman kolektif, bukan dari bangku akademik,” ungkap anak I Nyoman Mongol, Made Adnyana Ole, Selasa (6/1).
Baca juga: LEGA Bisa Jualan Lagi, Petani Jatiluwih Sepakat Cabut Seng dan Plastik, Polres Tabanan Ikut Pantau!
Baca juga: PEMKOT Tak Lagi Siapkan Dana Pendamping MBG, Simak Alasannya!
Dalam dunia arja, pengetahuan ini adalah pengetahuan hidup diwariskan melalui praktik, pengamatan, dan keterlibatan total dalam kehidupan komunal. Selain sebagai penari, ia juga dikenal sebagai seniman ukir serta pembuat bade atau wadah peraiapan ngaben, lengkap dengan berbagai properti seni dan perlengkapan upacara adat.
Dalam kesehariannya, ia hidup bersama istrinya, Ni Nyoman Mandiri yang telah mendahuluinya. Istrinya juga seorang seniman tari dan petani. Keduanya menjalani laku kesenian yang sepenuhnya menyatu dengan kerja agraris tanpa sekat antara seni, adat, dan kehidupan sehari-hari.
Pada dekade 1960-an, I Nyoman Mongol aktif dalam komunitas arja Cupak. Ia menghidupkan kesenian arja bersama berbagai sekaa.
Pada masa yang sama, ia dan istrinya terlibat dalam sekaa nandur perkumpulan buruh tani menanam bawang putih dari Desa Marga hingga Senganan. Bahkan hingga wilayah tiga kecamatan yakni Kecamatan Marga, Penebel, dan Baturiti.
Mereka berjalan kaki dari ladang ke ladang, bekerja bersama sekaa-sekaa tani. Di sela-sela menanam bawang putih, Mongol kerap menghapal ucapan, gending, serta agem gerak tari wijil menjadikan ladang sebagai ruang latihan sunyi.
Pada masa itu, bawang putih dari wilayah ini dikenal sangat subur dan bahkan menjadi percontohan. Hasil dari kerja buruh pertanian inilah yang kemudian digunakan untuk membeli properti pertunjukan arja.
Salah satu karya keseharian I Nyoman Mongol yang paling dikenang adalah panggul dari kayu kemuning, dibuat sepenuhnya dengan tangannya sendiri. Panggul-panggul ini kerap digunakan oleh anak-anak dan sanggar, bahkan oleh pelajar ASTI Bali (kini ISI Bali).
Karyanya tidak ditandai nama, tidak dipamerkan, namun terus hidup dalam bunyi dan irama tabuh generasi berikutnya. Dalam perjalanan hidupnya, ia juga dikenal sebagai pembuat alat permainan judi tradisional “bola adil”. Dan semuanya dibuat sepenuhnya dengan tangan tanpa mesin.
Alat ini digunakannya untuk mencari nafkah di berbagai odalan di pura, maupun di berbagai tempat sabung ayam, salah satunya di Pura Natar Sari Apuan.
Di sela keramaian pertunjukan tari, ia membawa papan bola adil, namun juga selalu siap ngayah membawa ketungan, kotak perlengkapan tari, serta berbagai properti yang kerap dipinjam orang lain. Tak jarang, properti tersebut tak pernah kembali.
Dalam pementasan tari, ia kerap berpasangan dengan penari Penasar I Riyuh serta Penasar I Nyoman Santa (Walaka), yang juga dikenal sebagai Ida Sri Empu Daksasamyoga. Hubungan antarseniman ini bukan sekadar kolaborasi panggung, melainkan jaringan hidup tradisi yang terjalin lintas generasi.
| Sebuah Perjalanan Patung ke Dalam Psikologi Manusia Dihadirkan Sudamala Resorts &Timboel Art Gallery |
|
|---|
| JEGOG Jembrana Kembali Guncang Panggung Jepang, Pentas 9 Kali Selama Dua Pekan di Negeri Sakura |
|
|---|
| Aboet Art Bangkit, Seniman Eksentrik Lohdtunduh Gelar Pameran Kebangkitan Seni Warna Indonesia |
|
|---|
| Pameran Lukisan di Jogja Internasional Art Festival 2025, Panggung Gema Triniti Art Sam Sianata |
|
|---|
| LUKISAN Spiritual Padahal Tak Punya Kemampuan Melukis & Buta Warna, Ricky Hasilkan Puluhan Karya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Nyoman-Mongol.jpg)