Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bulan Bahasa Bali

132 Orang Ikuti Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali, Banyak yang Pakai AI

Pecah telur, peserta lomba cerpen Bali dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2026 melonjak drastis, yakni sekitar 132 orang

Tayang:
Istimewa
BULAN BAHASA - Pelaksanaan penilaian lomba cerpen dalam Bulan Bahasa Bali 2026 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pecah telur, peserta lomba cerpen Bali dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2026 melonjak drastis.

Jika sebelumnya peserta berkisar antara 50 hingga 70 orang, kini mencapai 132 orang.

Namun sayangnya, dengan jumlah peserta yang melesat ini, banyak dari mereka yang menggunakan akal imitasi atau AI untuk membuat cerpen.

Sehingga bahasa Bali dalam cerpen tersebut menjadi berantakan dan aneh.

Baca juga: Bulan Bahasa Bali Ditutup, Ini Daftar Kecamatan Pemenang Lomba Di Gianyar

Hal itu diakui oleh ketiga juri, I Made Sugianto, IGB Weda Sanjaya, dan I Putu Supartika saat menilai cerpen pada Minggu, 15 Februari 2026 siang.

"Ini sebuah pencapaian yang membanggakan karena peserta naik drastis, tapi sayang ada yang menggunakan AI," papar Sugianto.

Sugianto menuturkan, berbeda dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang bisa sedikit tersamarkan, dalam bahasa Bali, penggunaan AI sangat kentara.

"Banyak yang bahasanya kacau, aneh. Bahkan ada kata-kata yang tak ada dalam bahasa Bali masuk. Misal kata dalan, wetan, kulon. Judulnya juga aneh," imbuhnya.

Baca juga: Bulan Bahasa Bali VIII Digelar, Pelajar dan Ibu PKK Ikuti Lomba Nulis Aksara 

Setidaknya, ada sekitar 20 persen cerpen yang dibuat atau diterjemahkan menggunakan AI.

Ia pun menyebut, juri sepakat untuk langsung mendiskualifikasi cerpen yang dibuat menggunakan AI.

Weda Sanjaya menambahkan, cerpen AI ini selain kacau juga tanpa jiwa.

Sehingga ini patut menjadi catatan ke depannya dalam pelaksanaan lomba menulis cerpen menggunakan AI.

Baca juga: Buka Bulan Bahasa Bali, Koster: Kalau Sampai Budaya Bali Punah, Kena Kutuk Raga Ajak Mekejang

Meski begitu, Weda Sanjaya menyebut banyak ide cerpen yang sebenarnya potensial dalam lomba ini, namun masih kurang dalam penggarapannya.

"Kebanyakan kurang dalam eksekusi. Ada yang terlalu melebar, ada juga yang bertele-tele," paparnya.

Namun menurutnya, ada juga cerpen yang diikutkan dalam lomba ini mengangkat cerita berdasarkan riset.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved