Seputar Bali
Wayan Koster Sebut Bali Hadapi Masalah Pertumbuhan Penduduk, Menteri ATR/BPN Minta Keluar Pulau
Gubernur Bali, Wayan Koster menyoroti masalah baru yang kini dihadapi masyarakat Bali selain masalah pariwisata dan sampah.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ngurah Adi Kusuma
Ringkasan Berita:
- Gubernur Bali Wayan Koster menyoroti pertumbuhan penduduk Bali yang rendah (0,66 persen), mengklaimnya sebagai dampak keberhasilan program KB dua anak Orde Baru yang mengancam kepunahan nama lokal seperti Nyoman dan Ketut.
- Untuk mengatasi masalah demografi ini dan menjaga budaya lokal, Koster berencana mengganti kebijakan KB dua anak menjadi KB empat anak.
- Sementara itu, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid mengusulkan transmigrasi warga Bali ke luar pulau untuk mengelola lahan pertanian nasional.
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Gubernur Bali, Wayan Koster menyoroti masalah baru yang kini dihadapi masyarakat Bali selain masalah pariwisata dan sampah.
Masalah itua dalah pertumbuhan penduduk yang dinilai jauh lebih rendah dari pertumbuhan nasional.
Tercatat, pertumbuhan penduduk, Bali berada di angka 0,66 persen lebih rendah dari pertumbuhan penduduk nasional yakni 1,04 persen.
Koster mengklaim, hal tersebut disebabkan karena KB 2 anak yang berlangsung di zaman orde baru terlalu berhasil di Bali.
Baca juga: Wayan Koster Soroti Usaha Milik WNA di Bali, Sebut Bisa Kantongi Hingga Rp50 Triliun per Tahun
Hal tersebut ia sampaikan pada acara Grand Design Ekonomi dan Investasi Hijau Bali di Bali International Hospital, Kawasan Ekonomi Khusus-Sanur, Rabu 18 Februari 2026.
“Jadi di Bali ini sebenarnya dilakukan KB 2 anak zaman orde baru. Selama berpuluh-puluh tahun, Bali adalah provinsi yang paling sukses menjalankan program KB 2 anak laki-perempuan sama saja sampai dapat penghargaan,” ungkap, Koster.
Lebih lanjutnya, Koster mengatakan akibat keberhasilan KB sekarang ini dampaknya pertumbuhan Bali lebih banyak bersumber dari pendatang yang membuat populasi penduduk asli Bali menurun sebab hanya memiliki dua anak itu.
Koster juga menjelaskan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pertumbuhan penduduk Bali l cenderung menurun.
Bahkan menurutnya sampai di tahun 2050 jumlah penduduk Bali akan terus menurun.
“Ini harus kita antisipasi jangan sampai kayak Tokyo, Jepang fenomenanya sekarang, gak mau nikah atau mau nikah, gak mau punya anak lalu mau nikah, paling punya anak cuma satu maka defisit Tokyo itu yang membuat mereka akan memberikan insentif untuk orang mau datang tinggal di Tokyo Singapura sama Cina pun juga sama defisit penduduk menurun jumlahnya,” imbuhnya.
Baca juga: Jenazah Dek Wati Rencana Dipulangkan Pekan Depan, PMI asal Jembrana Meninggal Dunia di Rusia
Dengan faktor-faktor tersebut, Koster menegaskan akan segera membuat kebijakan untuk tidak lagi menggunakan KB 2 anak, melainkan menjadi KB 4 anak yang terpenting dari satu istri sah.
Populasi Nyoman dan Ketut di Bali tersisa tinggal 4,5 persen.
Kebijakan ini didorong agar Nyoman dan Ketut tidak punah sampai 50 tahun lagi dan hanya dapat dilihat di museum.
“Jadi ini gambaran buruk demografi kita di Bali. Mengapa saya perlu menekankan ini Karena Kalau ini tidak dikelola dengan baik Nyoman dan ketut hilang Itu sebenarnya penjaga budaya kita di Bali ini akan menurun,” tandasnya.
Koster tekankan agar jangan terlalu bangga mendapatkan penghargaan KB dua anak.