Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

TPA Suwung Tutup

HARAP Ada Solusi, Perumda Pasar Denpasar Minta Kelola Sampah Mandiri, Jelang Penutupan TPA Suwung

Salah seorang pedagang pedagang di Pasar Kumbasari, Ketut Wenten Aryani juga berharap ada solusi sehingga tak harus membawa sampahnya pulang. 

Tayang:
Tribun Bali/Putu Supartika
AKTIVITAS PASAR - Tampak pedagang, tukang suun, juga warga hilir mudik di Pasar Badung, Denpasar, belum lama ini. 

TRIBUN-BALI.COM - Dengan rencana penutupan TPA Suwung, berbagai upaya dilakukan Pemkot Denpasar. Salah satunya dengan meminta pedagang di seluruh pasar mengelola sendiri sampahnya, khususnya untuk sampah organik.

Sampah ini bisa dikelola di rumah, atau di kios miliknya dengan memanfaatkan tong komposter. Langkah ini diambil untuk mengurangi sampah yang dihasilkan di pasar dibuang ke TPA Suwung.

Terkait kebijakan ini, pedagang yang terbiasa membuang sampah di pasar mengaku kerepotan. Mereka pun meminta solusi untuk pembuangan sampah tersebut.

Salah satunya diakui oleh pedagang buah di Pasar Anyar Sari Batukandik, Yanto. Yanto mengaku telah mendapat pemberitahuan dari pengelola pasar jika TPA Suwung akan ditutup dan sampah harus dibawa pulang.

Baca juga: JEBOL Lagi Senderan Sungai Desa Tumbu di Karangasem, Kerusakan Sepanjang 50 Meter dan Tinggi 5 Meter

Baca juga: KARYA STT Guna Widya Juara Lomba Ogoh-ogoh, Pemenang Lomba Diumumkan di Acara Masikian Festival

"Cuma solusinya nanti mau dibawa ke mana sampahnya itu? Saya berharap ada solusi. Misalnya diarahkan buang ke mana, agar tidak bingung," katanya, Minggu, (15/3).

Jika diminta memilah ia pun setuju, asalkan tetap difasilitasi dalam pembuangan sampahnya. "Meskipun tidak dipungut uang sampah, tapi kan saya bingung mau dibawa kemana sampahnya. Mending tetap dipungut biaya sampah dan sampahnya tidak dibawa pulang," ujarnya.

Salah seorang pedagang pedagang di Pasar Kumbasari, Ketut Wenten Aryani juga berharap ada solusi sehingga tak harus membawa sampahnya pulang. 

Baginya, jika sampah harus dibawa pulang, akan cukup menjadi beban baginya. Dan sampah yang dibawa pulang juga akan menambah beban jumlah sampah di rumahnya.

"Saya harap ada solusi terbaik. Jangan sampai harus membawa sampah pulang, kan nambah sampah di rumah. Karena selama ini kan dibuang di pasar dan tidak pernah dibawa pulang," paparnya.

Selain itu, seorang pedagang di Pasar Badung di lantai dua juga mengaku cukup kerepotan dengan kebijakan tersebut. Ia yang menjual keperluan upacara termasuk bunga dan canang ini menghasilkan cukup banyak sampah.

Dengan membawa sampah itu pulang, akan menambah beban sampah yang ada di rumahnya. Padahal di rumahnya sampahnya juga kerap menumpuk dan pengangkutannya kadang tersendat.

"Kalau bisa sampahnya selesai di sini. Tidak dibawa pulang lagi. Meskipun membayar lebih untung uang sampah saya tidak masalah," harapnya.

Sementara itu, pedagang bermobil dari Karangasem, Nengah Latri mengungkapkan selama ini memang ada petugas kebersihan yang membersihkan areal tempatnya berjualan.

Dirinya berjualan di selatan Pasar Kreneng setiap dua hari sekali pada dini hari hingga pagi. Ia pun mengaku belum mendapat imbauan untuk membawa sampahnya pulang.

Meski begitu, ia mengaku memang tak menghasilkan banyak sampah dari barang dagangan yang dijualnya. Ia menjual aneka keperluan upacara seperti ceper, taledan, sabut kelapa, dan juga kelapa yang sudah dikupas sabutnya. 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved