Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

Wacana Daring Demi Hemat BBM, Ortu di Denpasar Khawatirkan Efektivitas Pembelajaran

Wacana Daring Demi Hemat BBM, Ortu di Denpasar Khawatirkan Efektivitas Pembelajaran

Penulis: Putu Supartika | Editor: Aloisius H Manggol
Istimewa
ILUSTRASI BELAJAR MENGAJAR 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Wacana pembelajaran daring akan kembali diberlakukan untuk penghematan BBM.

Dalam wacana tersebut, pembelajaran daring rencananya akan digelar April 2026.

Terkait rencana tersebut, orang tua siswa di Denpasar khawatirkan efektivitas pembelajaran.

Apalagi belakangan ini banyak libur panjang Idul Fitri.

Baca juga: 38.212 Orang Masuk Bali Dalam Sehari, Anjing Pelacak pun Dikerahkan Periksa Barang Bawaan

Made Sugiarta, orang tua siswa yang tinggal di Panjer menyebut pembelajaran daring kurang efektif untuk siswa.

"Karena bahan ajar mungkin tidak bisa penuh diterima atau dimengerti murid. Kebanyakan disuruh baca, dikasi tugas sehingga tatap muka jauh lebih masuk," ungkapnya.

Baca juga: RESMI Pimpin KONI Bali, Giri Prasta Berpesan Jangan Ada Faksi

Selain itu, belajar daring butuh pengawasan lebih dari orang tua.


Sementara orang tua tidak bisa maksimal karena harus bekerja.


"Apalagi murid sudah kebanyakan libur. Libur panjang ditambah belajar daring, makin kurang efektif. Saat ini memang butuh belajar tatap muka," katanya. 


Meski demikian, jika kondisi memang sangat mendesak dan darurat, misalnya terjadi kelangkaan pasokan BBM, ia setuju. 


Hal ini mengingat sang anak bersekolah di SMPN 11 Denpasar yang berlokasi di Serangan.


"Saya mengantar jemput anak cukup jauh sampai ke sekolah negeri di Serangan. Jadi kalau pasokan BBM terganggu, tidak masalah sekolah daring.Tapi jika kondisi aman dan pasokan BBM lancar lebih baik belajar di sekolah," paparnya.


Sementara itu, I Gusti Ngurah Agung Bayu Sastra Negari mengaku tak setuju dengan wacana tersebut.


Selain karena jarak rumah ke sekolah dekat, juga mengkhawatirkan anaknya tak akan belajar maksimal.


"Kalau di rumah pasti akan kebanyakan bermain. Meski ada tugas, selesai buat tugas langsung main," kata orang tua siswa di Penatih ini.
 
Dirinya juga mengakui di waktu siswa sekolah, dirinya dan istrinya juga bekerja.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved