Berita Denpasar
Tak Hanya TPST, Beberapa TPS3R di Denpasar Overload Atasi Sampah Organik
Tak Hanya TPST, Beberapa TPS3R di Denpasar Overload Atasi Sampah Organik
Penulis: Putu Supartika | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Tak hanya TPST, beberapa Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Recycle, Reuse (TPS3R) juga alami overload usai TPA Suwung tak menerima pembuangan sampah organik per 1 April 2026. Salah satunya di TPS3R Sekar Tanjung yang berada di Sanur Kauh.
Kepala TPS3R Sekar Tanjung, Sila Darma menjelaskan ia kesulitan mengelola sampah organik di tengah keterbatasan kapasitas mesin dan sumber daya manusia. Sampah organik yang diterima setiap harinya mencapai 5 hingga 8 ton, sedangkan kapasitas mesin cacah yang ada saat ini sangat terbatas.
Baca juga: Siap Jadi Tuan Rumah Porprov 2027, Buleleng Matangkan Akomodasi dan Bidik Dampak Ekonomi
"Organik yang datang per hari kan ada jadwalnya. Tiap jadwal itu kurang lebih sampai 8 ton. Nah, ini sudah terjadi penumpukan. Sekitar 5 sampai 8 ton itu organik per setiap jadwalnya," jelasnya pada, Senin 13 April 2026.
Lebih lanjutnya ia mengatakan, meski progres pengelolaan secara umum berjalan normal, beban kerja meningkat karena mereka juga menampung sampah dari swakelola swasta.
Baca juga: Disuruh Ambil Narkoba oleh Paman, Sejoli di Buleleng Terancam Penjara 5 Tahun
"Kami masih berjalan normal. Bahkan di sini banyak swakelola swasta, sebagian pelanggan mereka kami tampung. Akibatnya kami over capacity di organik. Kalau yang lain bisa kami atasi, tapi organik ini yang jadi masalah karena sekarang tidak boleh dibuang ke TPA," sambungnya.
Di sisi lain, wacana pengiriman hasil cacahan atau material komposter ke Klungkung hingga kini belum menemui kejelasan. Hal ini membuat pihak TPS3R kesulitan mencari lahan penampung hasil cacahan yang terus menumpuk. Sebagai solusi darurat, pihak pengelola menawarkan hasil cacahan tersebut kepada warga sebagai material uruk lahan.
"Kami cari solusi dengan memberikan cacahan organik ini ke warga yang punya lahan kosong untuk uruk. Tapi tidak semua bisa dikeluarkan karena tidak banyak tempat yang mau menerima. Akhirnya tetap ada sisa yang menumpuk karena tidak semua bisa diproses jadi kompos," bebernya.
Kapasitas mesin yang ada saat ini hanya mampu mengolah kurang lebih 3 sampai 4 ton per 8 jam. Sayangnya, mesin tersebut tidak bisa dipaksakan bekerja terus-menerus karena berisiko mengalami kerusakan atau overheat. "Waktunya terbatas, tidak mungkin kita kerjakan semua. Mesin punya batasan waktu, kalau dipaksakan full time bisa rusak. Saat ini kami sedang menunggu operasional perluasan lahan dan mesin baru berkapasitas 100 ton," jelasnya.
Terkait sumber daya manusia, saat ini hanya ada 14 orang pekerja yang bertugas, di mana jumlah tersebut sudah termasuk petugas pengangkut sampah. Untuk bagian composting sendiri hanya ditangani oleh empat orang dengan durasi kerja 8 jam yang dipotong waktu istirahat agar kondisi fisik dan mesin tetap terjaga.
"Istirahat pegawai 1 jam, istirahat mesin setiap 15 menit, lalu kerja lagi. Kalau tidak begitu, mesin dan tenaga manusia tidak akan kuat karena suhu di area cacahan itu sangat panas," tambahnya.
| Warga Bakar Sampah dan Menumpuk di Pinggir Jalan Denpasar, Ini Tanggapan Wawali |
|
|---|
| MDA Denpasar Arahkan Pemilahan dan Pembuatan Kompos dengan Pararem |
|
|---|
| Pemilahan Sampah di Denpasar Capai 84 Persen, Arya Wibawa: Meningkat Setelah 1 April |
|
|---|
| 30 Sekolah di Denpasar Belum Miliki Kepsek Definitif, Tunggu Hasil Seleksi Kementerian Pendidikan |
|
|---|
| Target Belum Tercapai, Disdukcapil Denpasar Bali Kolaborasi Dengan Desa Dan Lurah Untuk Aktivasi IKD |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Para-pekerja-melakukan-proses-pengolahan-sampah-di-TPST-Tahura-I-Denpasar-kemarin.jpg)