Sosok
Sosok Men Djenggo dan Asal Usul Nasi Jinggo yang Melegenda di Bali
Nama nasi jinggo yang kini dikenal sebagai salah satu kuliner khas Bali ternyata memiliki kaitan erat dengan sosok Ni Ketut Ngasti
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Nama nasi jinggo yang kini dikenal sebagai salah satu kuliner khas Bali ternyata memiliki kaitan erat dengan sosok Ni Ketut Ngasti atau Men Djenggo.
Pada era 1970-an, Men Djenggo mulai berjualan nasi bungkus sederhana di kawasan Pelabuhan Benoa, Denpasar.
Nasi tersebut dijual untuk para pekerja pelabuhan, sopir tangki Pertamina, hingga pemancing.
Baca juga: Dokter Asal Tiongkok Lin Yingjie Beberkan Rahasia Integrasi Kuliner Untuk Wisata Kebugaran Di Bali
Dengan lauk sederhana seperti ayam, sapi, babi, sambal, telur, dan kacang, nasi buatannya terkenal lezat serta dijual dengan harga sangat murah.
Nama “Men Djenggo” berasal dari panggilan keluarga.
Suaminya, Buddy Alexie Bloem, sangat menyukai film koboi “Django” dan sering memanggil putranya, Henry Alexie Bloem, dengan sebutan “Djenggo”.
Dalam kebiasaan masyarakat Bali, Ni Ketut Ngasti kemudian dipanggil “Men Djenggo” yang berarti ibunya Djenggo.
Seiring waktu, nasi bungkus buatannya dikenal masyarakat sebagai “Nasi Men Djenggo”.
Baca juga: WISATA Kuliner Pasar Badung, Ada 60 Pedagang Jajakan Beragam Menu, Pasca Banjir Kembali Menggeliat
Penyebutan itu kemudian berubah dan lebih populer dengan nama “nasi jinggo” seperti yang dikenal hingga saat ini.
Setiap hari, Men Djenggo mampu membuat ratusan bungkus nasi, bahkan mencapai 1.000 bungkus saat ada pesanan kapal pesiar yang bersandar di Pelabuhan Benoa.
Meski berhenti berjualan pada tahun 1982 karena menjalani tugas sebagai pemangku, jejak kuliner yang diwariskannya tetap hidup dan berkembang di Bali.
Baca juga: WISATA Kuliner Pasar Badung, Ada 60 Pedagang Jajakan Beragam Menu, Pasca Banjir Kembali Menggeliat
Berpulang karena Sakit
Kabar duka datang dari dunia kuliner Bali, Ni Ketut Ngasti atau Odah Djenggo atau Men Djenggo dikabarkan meninggal pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Menurut penuturan putranya, Henry Alexie Bloem, Minggu, 10 Mei 2026, Men Djenggo berpulang di usia 90 tahun karena sakit.
Kepergiannya, meninggalkan dua warisan penting untuk kuliner Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Sosok-Men-Djenggo-atau-Ni-Ketut-Ngasti-pelopor-nasi-jinggo-di-Denpasar-Bali.jpg)