Berita Denpasar
Secangkir Kopi dan Koleksi Antik, Cara Arka Amerta Dekatkan Sejarah Denpasar Bali ke Generasi Muda
Menilik Narasi Sejarah Kota Tua Denpasar di Kawasan Cagar Budaya Dari Ribuan Benda Antik Sembari Menyeruput Kopi
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kawasan Jalan Gajah Mada di Denpasar, yang ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 2008, kini memiliki cara baru dalam mendekatkan sejarah kepada generasi muda.
Di tengah atmosfer Kampung Pecinan yang kental dengan akulturasi budaya Tionghoa, Belanda, dan Bali, sebuah ruang alternatif muncul memadukan ribuan koleksi benda antik dengan kebiasaan nongkrong modern.
Berlokasi di Jalan Gajah Mada No.127, Pemecutan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Arka Amerta Antique Shop & Coffee meleburkan batas antara museum kecil dan kedai kopi.
Di sini, benda-benda masa lalu tidak sekadar dipajang sebagai ornamen estetis atau komoditas dagang, melainkan menjadi pemantik diskusi sejarah yang interaktif bagi pengunjung, termasuk para pelajar, akademisi, dan masyarakat umum.
Baca juga: Meriahkan Imlek dan Festival Cahaya Lampion, Lampion Hiasi Jalan Gajah Mada Denpasar Bali
Konsep ini lahir dari visi pasangan suami istri, Taufan Chandranegara dan Dewi. Mereka melihat bahwa pendekatan sejarah perlu diubah agar relevan dengan gaya hidup masa kini.
Menikmati kopi nusantara berjenis single origin, kini menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk menjelajahi lini masa peradaban lewat benda-benda autentik yang ada di sekeliling mereka.
Setiap sudut ruangan dirancang secara cermat untuk mempertemukan kenyamanan modern dengan nilai historis.
Ribuan koleksi antik yang dipamerkan di Arka Amerta dipilih secara selektif, di mana setiap barang dilengkapi dengan narasi sejarah yang mendalam mengenai konteks zaman, nilai budaya, serta perkembangan seni masa lalu.
"Kami bercita-cita suatu saat nanti untuk bisa memiliki sebuah museum," ujar Dewi dijumpai Tribun Bali di sela kegiatan, pada Kamis 28 Mei 2026.
Upaya menghidupkan kembali jejak sejarah secara visual dan kontekstual ini menjadi bagian dari misi pelestarian yang lebih besar.
Dengan menyediakan lingkungan yang kondusif untuk memperluas wawasan, tempat ini berupaya memfasilitasi proses pembelajaran sejarah yang tidak lagi terasa kaku atau membosankan.
Sementara itu, Taufan Chandranegara menegaskan bahwa integrasi antara ruang bersantai dan edukasi ini merupakan langkah konkret untuk menjaga warisan budaya lokal agar tidak tergerus modernisasi.
"Kami berkomitmen untuk merawat warisan budaya sekaligus memfasilitasi proses pembelajaran yang relevan bagi generasi masa kini dan masa depan," kata Taufan.
Melalui perpaduan ini, kawasan heritage Gajah Mada mendapatkan napas baru. Sejarah tidak lagi hanya berdiam di dalam buku teks atau ruang pameran yang sepi, melainkan dihidupkan kembali dan didiskusikan bersama secangkir kopi. (*)
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Secangkir-Kopi-dan-Koleksi-Antik-Cara-Arka-Amerta-Dekatkan-Sejarah-1.jpg)