Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

KESEHATAN

UPAYA Tekan Kasus Kanker Serviks, Gianyar Kini Terapkan Metode HPV DNA, Simak Penjelasannya!

Pada 2025, jumlah penderita kanker leher rahim itu, menjangkiti sebanyak 36 ribu perempuan Indonesia, dan 21 ribu di antaranya meninggal dunia.

Istimewa
Pencegahan kanker - Pemkab Gianyar saat menggelar kegiatan skrining kanker serviks menggunakan metode Human Papillomavirus (HPV) DNA pada Desember 2025 lalu. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Kasus kanker serviks selama ini menjadi salah satu penyakit mematikan, pada perempuan di dunia khususnya di Indonesia dan Bali. 

Pada 2025 saja, jumlah penderita kanker leher rahim itu, menjangkiti sebanyak 36 ribu perempuan Indonesia, dan 21 ribu di antaranya meninggal dunia.

Sementara di Kabupaten Gianyar sendiri, belum mengungkapkan jumlah warganya yang menderita kanker ini. Namun demikian, Pemkab Gianyar berupaya, agar masyarakatnya terhindar dari persoalan tersebut.

Salah satunya dengan menggencarkan skrining kanker serviks, menggunakan metode Human Papillomavirus (HPV) DNA.

Baca juga: SEBELUM Ulah Pati, Mahasiswa Sempat Minta Maaf ke Orang Tua, Luka Lecet & Benturan Tewaskan Korban!

Baca juga: Satu Jenazah Korban Kapal Tenggelam di Labuan Bajo Dikremasi di Bali 

Metode yang telah diterapkan sejak Juli 2025 ini, telah menyasar 5.281 jiwa atau 88,02 persen dari target yang direncanakan sebanyak 6.000 orang. Metode ini dilakukan pada wanita berusia 30-69 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Gianyar, Ni Nyoman Ariyuni, Jumat 2 Januari 2025 mengatakan, kanker serviks adalah penyakit yang disebabkan infeksi Human Papillomavirus (HPV) yang dapat menular melalui hubungan seksual.

Kanker ini sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal, namun dapat berakibat fatal jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.

"Faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko terkena kanker serviks antara lain hubungan seks di usia dini, berganti-ganti pasangan seksual, sistem daya tahan tubuh lemah, merokok, dan tidak pernah melakukan skrining," ujarnya.

Melalui skrining HPV DNA, kata dia, dapat mendeteksi keberadaan virus HPV yang berisiko tinggi menyebabkan kanker serviks. "Dengan melakukan skrining ini, penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif," tegasnya.

Terkait skrining HPV yang belum memenuhi target di tahun 2025, Ariyuni mengatakan hal itu dikarenakan masih ada masyarakat yang enggan mengikuti skrining HPV DNA karena takut atau malu.

"Masyarakat masih ada yang malu atau takut. Padahal, melalui deteksi dini dapat meningkatkan peluang penyembuhan dan mengurangi risiko kematian akibat kanker serviks," ujarnya. 

Pihaknya berharap agar partisipasi masyarakat di tahun 2026 ini lebih banyak lagi, sehingga langkah pencegahan menjadi sangat penting.

"Bagi masyarakat yang menderita kanker serviks, perlu diimbangi dengan pola hidup sehat, termasuk mengonsumsi makanan bergizi dan menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh," serunya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved