Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Gianyar

Kerap Diterjang Air Deras, Bendungan Di Gianyar Bali Jebol, Rusak Sawah Dan Budidaya Ikan Lele

Kata dia, kerusakan bendungan telah terjadi berulang kali, namun dampaknya biasanya tidak signifikan. 

Istimewa
Rusak: Kondisi Bendungan Sangsang di Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, Bali rusak akibat cuaca ekstrem, Kamis 5 Februari 2026. Kerap Diterjang Air Deras, Bendungan Di Gianyar Bali Jebol, Rusak Sawah Dan Budidaya Ikan Lele 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Cuaca ekstrem yang belakangan ini melanda Kabupaten Gianyar, Bali, menyebabkan debit dan arus sungai meningkat. 

Hal menyebab banyak infrastruktur yang ada di areal sungai mengalami kerusakan. 

Salah satunya Bendungan Sangsang yang berada di aliran Sungai Pakerisan wilayah Desa Lebih, Kecamatan Gianyar.

Berdasarkan data dihimpun, Kamis 5 Februari 2026, kerusakan tersebut menimbulkan dampak luas. Mulai dari padi yang terancam gagal panen. Sebab kerusakan itu yang menghentikan suplai air ke areal persawahan yang saat ini tengah ditanami padi yang baru berumur sekitar sepekan.

Baca juga: RUSAK Ekosistem Air Bawah Tanah! Pemda Buat Skema Penyaluran Air Dari Bendungan ke Hotel

Kerusakan bendungan ini juga mengancam kelangsungan budidaya ikan lele. Sebab air yang kini tak mengalir areal persawahan, menyebabkan kolam-kolam ikan lele di sana terancam kekeringan. Kolam mereka sepenuhnya bergantung pada air dari bendungan tersebut.

Tak hanya itu, warga Desa Lebih secara umum juga terdampak. Aliran air sungai yang biasanya dimanfaatkan untuk mencuci dan keperluan rumah tangga kini tidak lagi mengalir.

Wakil Subak Sangsang, I Made Sedana Yoga membenarkan hal tersebut. 

Kata dia, kerusakan bendungan telah terjadi berulang kali, namun dampaknya biasanya tidak signifikan. 

Namun kerusakan kali ini benar-benar membuat petani dan masyarakat kewalahan, karena pertanian menjadi krisis air.

“Curah hujan tinggi beberapa waktu terakhir membuat debit Sungai Pakerisan meningkat tajam sehingga bendungan kembali jebol. Belum lagi, bendungan ini juga sudah berumur, dibuat saat zaman Belanda,” ujar pria yang akrab disapa Lojor itu.

Dijelaskan, krama subak dan pemerintah desa sebenarnya telah beberapa kali melakukan perbaikan secara swadaya. 

Namun, perbaikan tersebut belum mampu bertahan lama akibat tekanan arus air yang cukup besar saat debit sungai naik.

Ia pun berharap pemerintah daerah atau pihak terkait, memberikan perhatian pada kondisi ini. Sebab Bendungan Sangsang memegang peran vital bagi masyarakat Desa Lebih. 

Selain sebagai sumber pengairan sawah, bendungan tersebut juga menunjang usaha perikanan dan kebutuhan air sehari-hari warga.

Hal itu pula yang menyebabkan para pembudidaya ikan lele memilih untuk panen lebih awal. 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved