Berita Gianyar
Desa Adat Saba Gianyar Bersolek Untuk Menjadi Wajah Baru Pariwisata Bali Yang Autentik
program ini sangat sejalan dengan visi misi pemerintah desa dalam menata estetika lingkungan demi meningkatkan daya tarik wisatawan.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Desa Adat Saba yang terletak strategis di pesisir jalur Bypass Ida Bagus Mantra, kini tengah menapaki babak baru dalam peta pariwisata dunia untuk digarap lebih serius menjadi konsentrasi kunjungan wisatawan di masa depan melalui pengembangan pariwisata terpadu.
Desa di Gianyar, Bali ini menegaskan kesiapannya untuk bertransformasi menjadi destinasi wisata terpadu yang memadukan keindahan alam, kekuatan sejarah, dan fasilitas olahraga modern melalui peluncuran program strategis "Make Saba Beautiful" (MSB) dan lagu tema resmi desa pada Sabtu 14 Februari 2026.
Sinergi unik ini melibatkan partisipasi aktif warga lokal, perangkat desa, serta komunitas ekspatriat yang telah lama menjadikan Saba sebagai rumah mereka.
Fokus awal program ini adalah penataan taman atau "tamanisasi" di sepanjang jalan utama desa yang membentang sekitar 5 hingga 6 kilometer, mulai dari perbatasan utara di Blangsinga hingga mencapai pesisir Pantai Saba.
Baca juga: Aboet Art, Seniman Eksentrik Bangkit Kembali, Gelar Pameran Kebangkitan Seni Warna Indonesia di Bali
Inisiatif ini lahir dari visi Peter Studer, seorang ekspatriat asal Swiss yang telah menjadikan Saba sebagai rumahnya selama 30 tahun.
Menurutnya, program ini bertujuan untuk mentransformasi desa melalui penataan estetika lingkungan.
"Inisiatif ini pada dasarnya dirancang enam bulan yang lalu. Alasannya bukan untuk membuat Saba cantik lagi, karena Saba sudah cantik. Jadi, mari kita buat Saba lebih cantik. Itulah idenya," ungkap Peter Studer dalam diskusi bersama tokoh masyarakat.
Ia menekankan bahwa misi utamanya adalah kolaborasi inklusif untuk menyukseskan program penataan lingkungan tempat tinggalnya, hal ini merupakan cara ia berterima kasih setelah mengalami keharmonisan yang luar biasa dari salah satu desa di Pulau Dewata ini.
"Saya bermimpi bahwa ide-ide ini secara perlahan diimplementasikan di desa. Itulah alasan mengapa kami berbicara dan berpartisipasi membuat taman dan hal-hal seperti itu karena kita tidak berbicara tentang tahun ini, bukan tentang tahun depan, kita berbicara tentang masa depan," tuturnya.
"Bali milik Bali. Dan Bali memiliki cukup budaya, cukup hal-hal religius. Jadi, itulah yang ingin kami fokuskan. Kami tidak ingin mempengaruhi dunia Barat atau semacamnya," imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa Saba, Ketut Danu, menyatakan bahwa program ini sangat sejalan dengan visi misi pemerintah desa dalam menata estetika lingkungan demi meningkatkan daya tarik wisatawan.
Di balik upaya penataan fisik, Saba menyimpan kekayaan arkeologis yang luar biasa dengan peninggalan purbakala yang diperkirakan berasal dari Abad ke-14.
Pura Dalem Desa Adat Saba menjadi pusat perhatian dengan koleksi 44 benda cagar budaya bergerak.
Sementara Pura Puseh menyimpan 10 benda serupa, menjadikan desa ini sebagai salah satu pusat peradaban penting di masa lalu.
Selain itu, sejarah Banjar Saba yang kental dengan heroisme perebutan wilayah antara Kerajaan Blahbatuh dan Sukawati memberikan warna budaya yang kuat bagi masyarakatnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Desa-Adat-Saba-Gianyar-Bersolek-Untuk-Menjadi-Wajah-Baru-Pariwisata-Bali-Yang-Autentik.jpg)