Berita Gianyar
Dinas Pertanian Gianyar Bali Siaga Virus ASF, Minta Peternak Tingkatkan Biosekuriti
ASF merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan dikenal sangat mematikan bagi babi.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, yang juga membidangi peternakan, secara resmi menyatakan peternakan babi di Gianyar saat ini, mendapatkan ancaman virus African Swine Fever (ASF).
Hal tersebut berdasarkan kemunculan kasus ASF di sejumlah kabupaten/kota, tak terkecuali di Gianyar, Bali.
Kondisi tersebut menjadi alarm bagi para peternak untuk memperketat langkah pencegahan, agar wabah tidak meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, I Wayan Suarta, Selasa 2 Juni 2026, mengingatkan para peternak agar meningkatkan kewaspadaan dan disiplin menerapkan biosekuriti di lingkungan peternakan.
Baca juga: Ditargetkan Juni-Juli 2026, Bali Siap Distribusikan 50 Ribu Vaksin ASF ke Peternak
ASF merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan dikenal sangat mematikan bagi babi.
Meski tidak menular kepada manusia, penyakit ini mampu menyebabkan tingkat kematian tinggi pada ternak serta berdampak besar terhadap perekonomian peternak.
“Biosekuriti harus menjadi perhatian utama. Ini merupakan benteng pertama untuk mencegah masuk dan menyebarnya virus ASF ke peternakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penerapan biosekuriti mencakup pengawasan ketat terhadap lalu lintas ternak, kendaraan, orang, peralatan, hingga pakan yang masuk ke area peternakan.
Selain itu, kebersihan kandang harus selalu dijaga untuk meminimalkan risiko penularan penyakit.
Peternak juga diminta lebih selektif dalam membeli bibit atau ternak baru. Hewan ternak yang berasal dari sumber tidak jelas status kesehatannya, kata dia, berpotensi menjadi pintu masuk penyebaran virus ASF.
Tidak hanya itu, lanjutnya, peternak diimbau segera melaporkan kepada petugas Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) apabila menemukan gejala yang mengarah pada ASF, seperti demam tinggi, hilang nafsu makan, lemas, hingga kematian mendadak pada ternak.
Tim Teknis KIE Keswan PDHI Bali, drh. I Nyoman Arya Dharma, S.KH, menegaskan bahwa pengendalian ASF tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
Dibutuhkan kerja sama seluruh elemen, mulai dari peternak, pedagang, pemerintah, dokter hewan, akademisi hingga masyarakat.
Menurutnya, pencegahan jauh lebih efektif dan murah dibandingkan penanganan setelah wabah terjadi.
Ketika biosekuriti diabaikan, risiko penyebaran virus akan semakin besar.
Sebaliknya, penerapan biosekuriti yang disiplin dapat melindungi ternak sekaligus menjaga keberlangsungan usaha peternakan.
“ASF bisa dicegah apabila semua pihak bergerak bersama. Biosekuriti adalah harga mati untuk melindungi ternak, menyelamatkan peternak, dan menjaga ketahanan pangan daerah,” tegasnya. (*)
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Ternak-Ternak-babi-milik-warga-di-Kecamatan-Payangan-Gianyar-Bali-mati.jpg)