Perang Timur Tengah
Pedagang Kecil Di Gianyar Bali Menjerit, Harga Plastik Naik Dampak Perang Timur Tengah
Vicky semakin tercekik karena saat ini harga buah juga mengalami kenaikan. Meski demikian, ia tetap memilih untuk tidak menaikkan harga.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Dampak perang Timur Tengah telah menyentuh para pedagang kecil di Kabupaten Gianyar, Bali.
Hal tersebut dikarenakan plastik yang selama ini diproduksi di wilayah Timur Tengah saat ini mengalami kendala produksi dan distribusi. Dampaknya harga plastik pun mengalami kenaikan.
Seorang pedagang buah keliling, Vicky, saat ditemui berjualan di SPBU Teges, Desa Peliatan, Ubud, Selasa 7 April 2026, membenarkan bahwa harga plastik telah mengalami kenaikan signifikan sejak kurang lebih tiga hari lalu.
Salah satu yang paling menguras modalnya ialah harga cup plastik yang ia gunakan untuk jualan salad buah, yang dijualnya seharga Rp 10 ribu.
Baca juga: Harga Plastik Melambung Sampai 100 Persen, Pedagang di Klungkung dan Karangasem Bali Kelimpungan
"Paling terasa adalah harga cup, yang awalnya saya beli seharga Rp 19 ribu untuk beberapa buah, kini dengan jumlah yang sama harganya sudah mencapai Rp 24 ribu. Belum lagi plastik-plastik kecil dan kresek, harganya naik kisaran 1.000 sampai Rp 2.000 tergantung besar kecilnya," ujar pria asal Madura tersebut.
Vicky semakin tercekik karena saat ini harga buah juga mengalami kenaikan. Meski demikian, ia tetap memilih untuk tidak menaikkan harga.
Sebab menurut dia, harga jualannya sudah tidak bisa untuk dinaikkan lagi.
"Bukan tidak mau naikin harga, tapi memang jualan begini sudah tidak bisa dinaikin lagi harganya," ujarnya.
Kondisi ini menyebabkan gerih payah Vicky selama berjualan, hanya cukup untuk menyambung hidup dan membayar kos.
"Sekarang sudah tidak bisa nyimpan, hasilnya cuma buat makan sehari-hari, dan bayar kos," ujar duda yang kini hidup sendirian itu.
Jika terus demikian, Vicky pun memprediksi bahwa usaha kecilnya ini tidak akan bertahan lama. Dan, ia pun harus memikirkan usaha lain.
"Kalau terus begini, tentu harus mikirin usaha lain, setidaknya usaha yang harganya bisa dinaikkan. Kalau jualan buah seperti ini, harganya sudah mentok, tidak bisa naik lagi," ujar pedagang yang jualannya seharga Rp 2.000 sampai Rp 10 ribu itu.
Pedagang lainnya, Ni Putu Asri Utami Dewi, merupakan pedagang rujak dan tipat cantok di Jalan Raya Sayan, Ubud.
Ia juga tidak menaikkan harga jual, meskipun harga plastik dirasanya sudah mulai mahal.
Hal yang bisa dilakukannya adalah meminimalisir penggunaan plastik, terutama untuk pembeli yang pesanannya ingin dibungkus.
"Kalau yang makan sini kan pakai piring, sementara untuk yang bungkus, minimal belanja Rp 10 ribu baru dapat plastik," ujar pedagang yang menjual rujak dan tipat cantok di harga Rp 7.000 itu. (*)
Kumpulan Artikel Gianyar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Pedagang-Kecil-Di-Gianyar-Bali-Menjerit-Harga-Plastik-Naik-Dampak-Perang-Timur-Tengah.jpg)