Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Idul Adha

2.000 Ekor Sapi Terkirim ke Luar Bali, Idul Adha 2026, Sapi Gianyar Diburu Pasar Luar Bali

Sebagian pengiriman dilakukan melalui saudagar atau pengepul (belantih) yang langsung membeli sapi dari peternak.

Tayang:
Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
SAPI BALI - Sekda Gianyar, I Gusti Bagus Adi Widhya Utama saat melihat lomba sapi dalam momen HUT Kota Gianyar, belum lama ini. 

TRIBUN-BALI.COM – Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada akhir Mei 2026, harga sapi di Kabupaten Gianyar mulai merangkak naik seiring meningkatnya permintaan pasar. Ribuan sapi asal Gianyar mulai dikirim ke luar Bali untuk memenuhi kebutuhan kurban di berbagai daerah di Indonesia.

Sebagian pengiriman dilakukan melalui saudagar atau pengepul (belantih) yang langsung membeli sapi dari peternak. Di Kabupaten Gianyar, sekitar 2.000 sapi telah dikirim. Besarnya animo konsumen terhadap daging sapi Bali khususnya yang dari Gianyar, tak terlepas dari kesehatan sapi yang dijaga secara gotong royong oleh pemerintah dan peternak. Belum lagi, daging sapi Bali dinilai memiliki daging yang enak.

Pelaksana Tugas (Plt) Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar, I Made Dwitemaja, Minggu (3/5), menjelaskan bahwa pengiriman sapi untuk kebutuhan Idul Adha sudah dimulai sejak pertengahan April dan masih berlangsung hingga saat ini.

Baca juga: 4 PAKET Perbaikan Jalan Tender Ulang, Harga Aspal Naik Tajam, Imbas Perang Timur Tengah

Baca juga: ATASI Timbunan Sampah TPA Tabanan, Inovasi Made Hiroki Tawarkan Teknologi Pirolisis “Solusi Aksara"

“Sekitar 2.000 ekor lebih sapi potong sudah terkirim ke luar Bali,” ujarnya seizin Kepala Distanak Gianyar.
Ia menambahkan, sapi-sapi tersebut umumnya dikirim ke sejumlah kota besar seperti Jakarta, Tangerang, Semarang, Solo, hingga Surabaya. Pengiriman dilakukan oleh pengusaha atau pengepul sapi berizin yang telah memenuhi standar dari Dinas Peternakan Provinsi Bali.

Dari sisi kesehatan, Dwitemaja memastikan sapi asal Gianyar telah memenuhi standar yang ditetapkan. Yakni, setiap sapi yang dikirim wajib dilengkapi surat keterangan sehat serta bukti vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

“Secara umum sapi di Gianyar sudah divaksin PMK sebanyak tiga kali, kecuali anakan atau bibit baru dari luar daerah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa saat ini sapi di Gianyar sudah bebas dari PMK, sehingga semakin diminati oleh pembeli dari luar Bali. Selain faktor kesehatan, cita rasa daging sapi Bali yang khas turut menjadi daya tarik tersendiri.

“Sapi Gianyar, khususnya sapi Bali, laris manis di luar daerah karena sehat dan kualitas dagingnya diakui,” tambahnya.

Untuk kebutuhan kurban di wilayah Gianyar sendiri, stok sapi yang disiapkan sekitar 50 ekor, dengan distribusi terbanyak di wilayah Candra Asri, Sukawati, dan Kecamatan Gianyar.

Menurut Dwitemaja, momentum Idul Adha ini membawa berkah bagi para peternak di pedesaan. Sebab, menjual sapi kerap dijadikan sebagai sumber dana untuk kebutuhan penting, seperti biaya pendidikan anak hingga pembelian kendaraan.

“Bagi peternak, sapi itu seperti tabungan. Biasanya dijual saat kebutuhan mendesak seperti biaya sekolah atau kebutuhan keluarga lainnya,” ungkap Dwitemaja.

Berdasarkan data per akhir April 2026, populasi sapi di Gianyar mencapai 38.441 ekor. Dari jumlah tersebut, sekitar 6.000 ekor merupakan sapi potong yang siap dipasarkan, baik untuk kebutuhan lokal maupun luar daerah. Terkait harga, terjadi kenaikan signifikan menjelang hari raya. 

Sapi dengan bobot di bawah 350 kilogram dijual sekitar Rp 52 ribu per kilogram hidup. Sementara bobot di atas 350 kilogram berkisar Rp50 ribu per kilogram hidup, dan sapi dengan bobot lebih dari 400 kilogram bisa mencapai Rp55 ribu per kilogram hidup.

Sebelumnya, harga sapi potong masih berada di kisaran Rp46.000 per kilogram hidup. Kenaikan harga ini dipicu oleh meningkatnya permintaan pasar menjelang Idul Adha. Sementara itu, harga kambing juga mengalami kenaikan, dengan rata-rata mencapai Rp 15 juta per ekor.

“Ini hanya kisaran harga. Di lapangan bisa lebih tinggi atau lebih rendah, tergantung kondisi pasar. Yang jelas, hukum ekonomi berlaku, permintaan meningkat, harga pun ikut naik,” ujarnya. (weg)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved