Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Jembrana

Disdikpora Jembrana Evaluasi Sejumlah Sekolah Potensi Diregrouping

Salah satunya adalah SDN 5 Batuagung. Sekolah ini awalnya direncanakan digabung dengan sekolah terdekat lainnya.

Tayang:
Tribun Bali/Putu Supartika
Ilustrasi sekolah 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Sejumlah sekolah dasar negeri di Jembrana menjadi perhatian sekaligus dalam proses evaluasi oleh Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora).

Salah satunya adalah SDN 5 Batuagung. Sekolah ini awalnya direncanakan digabung dengan sekolah terdekat lainnya.

Namun baru tahap awal, dan pemerintah sepakat dengan tokoh untuk memberikan waktu ke masyarakat untuk melanjutkan proses belajar di sekolah tersebut sementara. 

"Kemarin memang sudah sosialisasi awal. Saat itu memang tokoh masyarakat setempat meminta untuk menunda sementara rencana tersebut (penggabungan sekolah)," jelas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra saat dikonfirmasi. 

Baca juga: Hubungan Asmara Tak Direstui, Pemuda di Buleleng Nekat Lakukan ini Pada Ayah Sang Pacar

Menurutnya, kesepakatan menunda sudah dibahas dengan tokoh masyarakat setempat. Sepanjang masyarakat setempat bersedia untuk menjamin kelangsungan pembelajaran tersebut terutama soal jumlah siswa, tentunya rencana regrouping bakal menjadi kajian lanjutan.

"Sepanjang komitmen tokoh masyarakat di desa tersebut sama dengan kita yaitu mencarikan murid untuk sekolah tersebut. Karena memang di beberapa sekolah kita lihat siswanya sekolah di lintas wilayah," ungkap Anom.

Baca juga: Menuai Protes Warga, Aktivitas Jemur Limbah Bulu Ayam di Tojan Dihentikan Satpol PP Klungkung

Dia menyebutkan, jadi banyak masyarakat misalnya dari Batuagung sekolahnya di Kelurahan Dauhwaru. Padahal secara potensi atau jumlah siswa di sekitar sekolah yang akan diregrouping tersebut masih ada dan banyak. Mungkin karena jaraknya sedikit jauh sehingga mereka memilih yang lebih dekat dengan rumahnya.


"Jadi paling minimal ada diatas 10 orang siswa. Mereka juga bersedia membantu kita sehingga nanti siswanya sangat minimal sekali atau sama sekali tidak ada siswa di tahun ajaran baru," imbuhnya.


Meskipun begitu, kata dia, pihaknya tetap melakukan evaluasi menyeluruh minimal keberlangsungan minimal selama tiga tahun berturut. Itu terkait penyebab keterisian siswa terus menurun. Itu apakah karena memang potensi atau jumlah siswa yang memang sedikit bahkan tidak ada, ataukah siswa sekitar yang cenderung sekolah ke luar wilayah atau bahkan ke sekolah swasta. 


"Intinya kita pelajari juga (penyebab). Tapi hasil komunikasi kemarin, tokoh masyarakat sudah disepakati untuk diberikan waktu dulu (sebelum diregrouping)," tandasnya.

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved