Berita Karangasem
Sentra Tenun Trisna Lestarikan Endek Sidemen Bali dan Dukung Pariwisata Desa
Gusti Ngurah Made Suarba mengatakan, usaha yang dirintis sejak 2013 itu awalnya hanya memiliki dua alat tenun.
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Di tengah arus modernisasi industri tekstil, Sentra Tenun Trisna di Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Bali, tetap konsisten mempertahankan tradisi tenun endek Bali dengan alat tenun tradisional.
Tidak hanya menjadi pusat produksi kain endek, keberadaan sentra ini juga berkembang menjadi daya tarik wisata yang mendukung pariwisata berbasis budaya di kawasan Sidemen.
Suasana hangat terasa saat memasuki Sentra Tenun Trisna di Desa Sidemen, Kabupaten Karangasem, Minggu 7 Juni 2026.
Beberapa ibu-ibu tampak saling bergurau, sembari tangan mereka sibuk menenun helai demi helai benang menjadi kain endek utuh.
Baca juga: Paradoks Kain Tenun Endek Bali: Pengguna Meningkat, Jumlah Penenun Terus Menurun
Mereka tampak sangat teliti memperhatikan motif kain, disela-sela suara hentakan alat tenun bukan mesin (ATBM) terdengar riuh.
Pemilik Sentra Tenun Trisna, I Gusti Ngurah Made Suarba mengatakan, usaha yang dirintis sejak 2013 itu awalnya hanya memiliki dua alat tenun.
Berbekal pengalaman sang istri yang telah lama menekuni kerajinan songket, mereka mulai mengembangkan produksi kain endek karena melihat permintaan pasar yang terus meningkat.
“Awalnya hanya dua alat tenun. Kami melihat endek memiliki peluang yang besar karena selain menjadi identitas budaya Bali, permintaannya juga semakin banyak,” ujarnya.
Menurut Suarba, perkembangan usaha mulai terasa pada 2015 ketika sebuah biro perjalanan membawa sekitar 50 wisatawan asal Amerika Serikat untuk melihat langsung proses pembuatan kain tenun.
Kunjungan tersebut menjadi titik awal Sentra Tenun Trisna dikenal oleh wisatawan asing.
Sejak saat itu, proses pembuatan tenun endek dikemas sebagai bagian dari paket wisata yang terintegrasi dengan aktivitas trekking di Desa Talibeng.
Sebelum menjelajahi desa, wisatawan diajak melihat proses menenun endek.
“Hampir setiap hari ada kunjungan wisatawan. Kebanyakan dari Eropa seperti Prancis dan Belanda. Mereka tertarik melihat kearifan lokal yang autentik, mulai dari proses tenun sampai arsitektur tradisional Bali,” jelasnya.
Selain menyaksikan proses produksi, wisatawan juga mendapat penjelasan mengenai fungsi kain Bali dalam kehidupan masyarakat.
Endek, kata Suarba, tidak hanya digunakan dalam kegiatan adat, tetapi juga pada berbagai acara formal sebagai simbol identitas budaya Bali.
Di sektor produksi, Sentra Tenun Trisna saat ini melibatkan sekitar 35 hingga 40 penenun yang sebagian besar merupakan masyarakat lokal Desa Talibeng.
Dalam sebulan, sentra tersebut mampu menghasilkan sekitar 100 lembar kain endek dengan harga berkisar Rp350 ribu hingga Rp400 ribu per lembar.
Meski proses menenun satu kain dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu setengah hari, tahapan produksi dari benang hingga menjadi kain siap pakai membutuhkan waktu hingga satu bulan.
“Kalau menenunnya saja sekitar satu setengah hari per kain. Tapi proses dari benang sampai siap ditenun cukup panjang. Biasanya kami menyiapkan bahan untuk puluhan kain sekaligus,” katanya.
Suarba mengakui minat generasi muda untuk menjadi penenun saat ini mulai berkurang. Sebagian besar perajin yang aktif merupakan kelompok usia lanjut.
Namun demikian, masih ada sejumlah pelajar yang mulai belajar menenun sepulang sekolah sebagai upaya menjaga keberlanjutan tenun tradisional tersebut.
Menurutnya, penggunaan alat tenun tradisional tetap dipertahankan karena tidak hanya menghasilkan karakter khas kain tenun ikat, tetapi juga menjadi cara menjaga pengetahuan dan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Ia juga menilai kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan endek sebagai seragam instansi memberikan dampak positif bagi keberlangsungan industri tenun lokal.
Permintaan dari berbagai lembaga dan instansi dalam beberapa tahun terakhir disebut mulai kembali meningkat.
“Endek sudah menjadi identitas daerah. Dulu Sidemen dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan endek di Karangasem dan kain endek Sidemen banyak dicari di berbagai pasar tradisional Bali. Karena itu, pelestarian harus terus dilakukan,” ungkapnya. (mit)
Kumpulan Artikel Karangasem
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Sentra-Tenun-Trisna-Lestarikan-Endek-Sidemen-Bali-dan-Dukung-Pariwisata-Desa.jpg)