Berkat OVOP, Petani di Bangli Olah Jeruk Jadi Pia
Selama ini, desa Tiga dikenal sebagai kawasan segitiga emas yaitu perbatasan antara Bangli, Gianyar dan Buleleng. Petani di Bangli olah jeruk jadi pia
Penulis: I Putu Darmendra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Lima tahun sudah Taiwan Tecnikal Mision dari Kementrian Koperasi Taiwan menjalankan program one village one product (OVOP) di Desa Tiga, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali. Hasilnya, luar biasa, para petani setempat begitu progresif dan piawai dalam memanfaatkan buah jeruk menjadi berbagai jenis olahan baru.
Satu diantaranya adalah via yang diberi nama the king and queen. Pembungkus kotaknya berwarna kuning, designya sebegitu menarik sekali. Ada gambar tokoh legenda Raja Sri Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wei. Rupanya gambar tersebut memiliki filosofi penggabungan dua budaya yaitu Bali dan Taiwan.
"Kami ingin orang lokal mengenal dan mengingat budaya sendiri. Karikatur ini mencerminkan perpaduan dua kebudayaan," ujar asisten OVOP Bali, Johnlee pada Tribun Bali beberapa waktu lalu di kantor OVOP Desa Tiga Bangli.
Taiwan Tecnikal Mission terlebih dahulu melihat potensi daerah yang bisa dikembangkan. Berdasarkan berbagai macam survei, akhirnya Desa Tiga Bangli terpilih menjadi program pengembangan agribisnis komunitas unggulan dengan pengembangan budidaya jeruk Kintamani.
"Selama ini, desa Tiga dikenal sebagai kawasan segitiga emas yaitu perbatasan antara Bangli, Gianyar dan Buleleng. Ini yang membuat Desa Tiga menurut kami sangat strategis untuk dikembangkan menjadi satu daerah agropolitan di Bangli," kata Johnlee.
Saat ini, pihaknya sudah melibatkan lima kelompok petani jeruk dengan jumlah anggota 138 orang. Hasilnya progres terlihat. Dahulu saat panen sebegitu banyak jeruk petani yang terbuang akibat ukurannya yang kecil.
Namun setelah adanya program OVOP. Para petani mulai belajar cara mengolah produk. Sebuah ide terobosan muncul, kue gurih rasa jeruk murni pun dihasilkan. Perlahan para petani setempat menjauh dari kata rugi saat panen.
"Dulu jeruk-jeruk yang kecil itu terbuang. Kita harus pikirkan itu, jangan sampai terbuang atau malah jadi pakan ternak. Akhirnya ide pengolahan itu muncul. Hasilnya tentu sangat membantu para petani," jelasnya.
Perlahan, produk olahan jajanan pia king and queen dikenal. Berbagai pameran diikuti. Kendati belum bisa mendobrak dominasi pia-pia yang sudah lebih dahulu ada, Johnlee optimis produk olahan tersebut tak lama lagi berhasil mencuri perhatian masyarakat. Ini berdasarkan, pia king and queen memiliki taste yang original. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ovop-bangli.jpg)